seputarbanten.com-PULOMERAK, Direktorat Kriminal Umum (Ditkrimum) Polda Banten mengamankan dua orang yang diduga sebagai preman ketika melakukan razia di Terminal Terpadu Merak (TTM), Rabu (10/2).

Hal itu dilakukan setelah kedua pria tidak memiliki kartu tanda pengenal (KTP) elektronik.Razia yang dilakukan sekira pukul 12.00 WIB oleh pihak Ditkrimum Polda Banten dengan menerjunkan dua mobil dalmas. Satu per satu warga yang ada dimintai tanda pengenal, dan di cocokan datanya dengan menggunakan alat pendeteksi Mambis.

Warga yang mengetahui ada razia hanya bisa pasrah dan mengikuti permintaan dari pihak polisi. Selain itu, razia yang dilakukan tersebut untuk menangkap warga yang menggunakan dan menjual narkoba di kawasan terminal.

Namun sayang, dalam razia itu polisi hanya berhasil mengamankan dua orang yang diduga sebagai preman, sedangkan untuk narkoba tidak didapatkan.

Sekedar diketahui, alat pendeteksi Mambis merupakan salah satu alat yang dimiliki Polda Banten dan terkoneksi langsung dengan data masyarakat yang ada di Banten sesuai dengan KTP elektronik yang dimiliki oleh masing-masing orang.

Bagi warga yang tidak memiliki KTP elektronik atau tidak terdata, alat ini tidak akan mengeluarkan data atau riwayat seseorang.

Selain itu, alat ini juga bisa mendeteksi buronan polisi yang melakukan penyamaran.Kanit I Kemanan Negara (Kamneg) Sub Ditkrimum Kompol Agus Suherman mengatakan, razia yang dilakukan oleh jajarannya adalah untuk menekan dan mencegah terjadinya tindak kriminalitas di TTM, dan untuk mengantisipasi peredaran narkoba. Mengingat, terminal merupakan salah satu daerah ramai yang rentan terjadi tindak kejahatan.

“Dalam rangka operasi premanisme dan kejahatan jalanan,” ujarnya,

Pemeriksaan yang dilakukan dengan menggunakan alat pendeteksi Mambis bertujuan untuk mempermudah mengidentifikasi seseorang, karena terkoneksi langsung dengan pihak Kementerian Dalam Negeri (KEmendagri).

“Itu alat identifikasi terkoneksi ke Kemendagri, apabila orang yang kita deteksi akan terkoneksi apakah dia memiliki KTP asli atau palsu, kalau asli datanya akan muncul, dan beberapa catatan yang kita perlukan,” katanya.

Selain itu, alat ini juga bisa mengidentifikasi sesorang yang masuk kedalam daftar pencarian orang atau buronan yang sedang dicari oleh pihak polisi. Untuk itu, dengan adanya alat ini, diharapkan bisa mempermudah penangkapan buronan polisi.

“Seperti kriminal dan daftar orang yang sedang dicari. Jadi dalam pencarian DPO akan sangat mudah,” ujarnya.Untuk semetara lanjutnya, kedua orang yang diamankan oleh polisi akan dilakukan pendataan dan pengecekan terlebih dahulu, sehingga data keduanya masuk kedalam data base Kemendagri.

“Karena terminal rawan dengan kejahatan, sebab kondisinya sangat ramai. Sejauh ini kami belum menangani kasus dari Merak,” tukasnya.

Disinggung mengenai sempat lolosnya penyelundupan narkoba di wilayah Jakarta dari Pelabuhan Merak, dan penangkapan 1,5 ton ganja di daerah Kabupaten Serang, dia berkilah hal itu membutuhkan kerjasama dari semua pihak. Sebab, jika polisi bekerja sendiri hasil yang didapatkan tidak akan maksimal.

“Ini perlu dukungan dari masyarakat, karena wilayahnya luas. Jadi apalah artinya polisi kalau masyarakat tidak bekerjasama dengan polisi. Kesulitan pasti ada, tapi jangan jadikan itu sebagai hambat, melainkan jadikan sebagai peluang,” ujarnya.

Sementara itu salah satu orang yang diamankan Edi Saputra, warga Serang berkilah jika dirinya masih menunggu hasil perekaman KTP elektronik yang belum selesai hingga kemarin.

“Saya sudah mendaftarkan untuk mendapatkan KTP elektronik, sudah melakukan perekaman juga, cuma KTP nya belum selesai sampai sekarang,” Tukasnya

Reportase : Galih_Sbo#02

Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: