seputarbanten.com-PULOMERAK, Tidak pernah ada yang menyangka di Lingkungan Batu Bolong, Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Pulomerak terdapat sebuah bunker yang digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata peninggalan tentara Jepang pada Perang Dunia II di Kota Cilegon. Sayangnya, bunker itu kini terbengkalai.
Bunker Jepang yang terbuat dari beton ini sulit ditemukan lantaran tertutup oleh kontainer bekas di sekitar Pelabuhan Indah Kiat Pulp and Paper, Merak. Jika kontainer disingkirkan, bunker itu sangat mudah untuk ditemukan, karena lokasinya cukup strategis, berada tepat disamping sebuah rumah makan kecil, di jalan nasional Merak - Suralaya di depan pintu masuk Pelabuhan Indah Kiat Pulp and Paper.

Selain tertutup oleh kontainer, lubang besar yang sengaja dibuat oleh tentara Jepang itu juga sudah tampak tak terawat dan luput dari perhatian pemerintah daerah setempat. Di dalam bunker ditemukan botol-botol bekas air mineral dan sampah yang menumpuk.

Komandan Pos Angkatan Laut (Danposal) Pulau Sangiang Letda Laut (P) BM Murti membenarkan jika selain di Pulau Sangiang, terdapat jejak Jepang di beberapa pulau salah satunya berada di Merak. Bungker itu selain digunakan untuk senjata juga sebagai lokasi perlindungan tentara Jepang.

"Bunker-bunker yang ada di beberapa wilayah di Banten itu dibuat oleh romusha dari tahun 1942 hingga 1945. Bungker itu sengaja dibuat di pulau-pulau atau pesisir pantai untuk pertahanan dari musuh," katanya.

Warga sekitar, Rohaini mengatakan, selain bunker peninggalan Jepang, warga di Lingkungan Batu Bolong juga menemukan jejak rel kereta api yang tersambung ke arah bunker yang tertanam di dalam tanah.

"Pernah ada yang gali sumur menemukan besi rel kereta api. Gak dalam paling sekitar 2 meteran, arah relnya ke sini (bunker-red)," katanya

Menurut Rohaini, bunker tersebut sebelumnya pernah dijadikan gudang persenjataan oleh tentara Jepang.

"Dari saya kecil begitu saja kondisinya. Malah sekarang ada orang yang tinggal disana, namanya Samin cuma dia tidak bisa bahasa Indonesia," ujarnya.

Rohaini menjelaskan, Samin hidup sebatang kara selama puluhan tahun. Setiap hari dia tidur di sela-sela batu. Pakaiannya dari pemberian warga yang kini sudah compang-camping.

"Hampir 20 tahunan tinggal disana. Dia keluar biasanya cuma makan, minum atau buang air. Tapi kadang-kadang dia suka teriak-teriak sendiri," jelasnya.

Reportase : Ujang_Sbo#05

Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: