seputarbanten.com-CILEGON, Selama 2015 terdapat, satu kasusu kekerasan yang dilakukan oleh guru terhadap peserta didik di Cilegon. Hal itu tentu tidak boleh dilakukan mengingat pemerintah telah melarang adanya tindak kekerasan dilingkungan sekolah.Demikian hal itu terungkap dalam sosialisasi Sekolah Ramah Anak di Cilegon Plazza Mandiri, Kemarin.

“Kalau berbicara guru dengan kekerasan di Cilegon kecil, tetapi bukan hanya oleh guru tapi juga orang tua,” kata Kepala Dinas Pendidikan Cilegon Mukhtar Gozali.

Disinggung mengenai jumlah kasus kekerasan guru terhadap anak yang ada di Cilegon, dia mengaku jika hal itu terbilang masih minim dan hanya ada beberapa kasus yang terjadi. Namun, dia berharap semua guru yang ada di Cilegon tidak melakukan tindak kekerasan terhadap para peserta didik, seperti mencubit, menjewer dan hal lainnya.

“Tapi dua atau tiga tahun yang lalu ada kasus seperti itu, makanya enggak boleh ada kasus seperti itu, kalau untuk 2015 baru ada satu kasus guru melakukan kekerasan,” ujarnya.

meski pemerintah pusat telah melakukan pelarangan terhadap bentuk-bentuk kekerasan yang ada di Cilegon, namun hal itu belum bisa sepenuhnya berjalan dengan baik. Sebab, bentuk kekerasan yang ada melibatkan dengan emosional guru ketika mengajar di dalam kelas maupun ketika sedang ada di Sekolah.

“Bukan karena sosialisasinya, semua guru sudah paham itu, tapi bentuk emosi yang dimiliki guru harus bisa mengaturnya,” katanya.

Untuk mengantisipasi adanya tindak kekerasan di sekolah lanjutnya, sebaiknya guru yang sedang emosi segera digantikan sementara untuk mengajar sampai emosinya hilang. Sebab, jika hal itu tidak dilakukan, tindak kekerasan yang melibatkan guru dan murid sulit untuk diatasi.

“Jadi kalau guru sedang ada masalah atau emosi, segera serahkan ke Guru BP, lebih baik diserahkan sementara apabila ada hal semacam itu,” ujarnya.

Ditanya mengenai sanksi yang diberikan terhadap guru yang melakukan tindak kekerasan, Mukhtar mengungkapkan, pihaknya maupun sekolah tentu akan memeberikan sanksi terhadap guru yang kedapatan melakukan tindak kekerasan, namun hal itu hanya sebatas teguran dan sanksi ringan lainnya.

“Sanksinya kita beri teguran, pasti akan kita tegur, tidak ada harus diberhentikan, karena itu bukan ranah kita,” katanya.Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) pada Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (BKBPP) Cilegon Putri Puspa mengatakan, pihaknya tidak bisa bekerja sendiri dalam mewujudkan sekolah ramah anak, hal itu harus dilakukan oleh semua pihak yang terlibat.

“Kalau kita, tidak bisa satu tugas oleh kita, tapi semua pihak agar hal ini bisa terwujud. Dan kita sudah mulai membangun koordinasi dengan semua pihak,” katanya.Di Cilegon kata dia, hal itu sudah hampir terwujud, mengingat sarana dan prasarana yang ada hampir memadai secara keseluruhan. “Ramah anak bukan sekolah aja yang melakukan sekolah ramah anak, tapi semua pihak, dan sarana prasarana yang kita miliki sudah mendekati hal itu, dan termasuk pengamanan di sekolah-sekolah,” ujarnya.

Reportase : Galih_Sbo#03

Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: