seputarbanten.com-MERAK, Perijinan Hotel grend merak yang berada dilingkungan batu bolong kelurahan taman sari kecamatan pulomerak belum mendapatkan ijin dari pemerintah setempat.

Untuk mendapatkan perhatian dan dukungan atas ijin tersebut pengelola berusaha mendekati sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh agama dilingkungan kelurahan taman sari.

Salah satunya Ustad sobri tokoh agama yang satu ini bercerita bahwa pengelola merayunya dengan bahasa bahwa hotel tersebut tidak ada fasilitas diskotiknya, setelah ia mendatangani dukungan ia diberikan amplop yang berisikan uang sejumlah satu juta rupiah.

"Saya diberikan amplop saat pengelola ingin pulang, tetapi saat saya tolak dan bahkan saya kejar ke jalan pengelola tetap memaksa,"Tuturnya

Ustad sobri yang pernah ikut menutup Hotel tersebut, sebelum menejemen yang sekarang, mengaku menyesal telah menandatamgani dukungan tersebut, ia khawatir kedepan fasilitas yang ada dihotel yaitu karoke akan dijadikan ajak maksiat.

"Setelah saya pikirkan kembali, saya khawatir tempat itu akan dijadikan tempat maksiat,"Katanya

Ustad Sobri, mengaku akan segera menarik tandatangannya sebagai bukti dukungan dan akan segera mengembalikan uang tersebut kepada pengelola.

"Saya akan segera mengembalikan uang tersebut dan akan menarik dukungan dari ijin tempat tersebut,"Pengakuannya kepada seputar banten.

Sementara itu, Pengelola Hotel Greand Merak, Tatang membantah dirinya telah memberikan uang kepada sejumlah tokoh agama di Pulomerak untuk melancarkan aktivitas usahaanya hotel grend Merak untuk kedepannya. Kedatangan dirinya ke sejumlah pemuka agama hanyalah sekedar silaturahmi.

"Kita cuma silaturahmi saja, karena kita mau buka usaha disana. Itu cuma selametan tempat, karena sebelumnya tempat itu kan dikenal angker," katanya.

Tatang juga mengungkapkan, selain melakukan silaturahmi kepada pemuka agama, dirinya tidak membantah jika kedatangannya untuk meminta izin agar usahanya didukung. Namun untuk aktivitas hiburan malam itu dirinya dan pihak kelurahan sudah sepakat untuk tidak mengadakannya.

"Sesuai dengan permintaan pak Lurah Taman Sari, tidak ada tempat diskotik disana. Untuk itu saya membuat surat yang kaitannya dengan perizinan, sebagai syarat untuk memiliki badan usaha," ungkapnya.

Untuk diketahui, pada tahun 2013 lalu, aktivitas Hotel Grand Merak sempat mendapatkan penolakan dari sejumlah masyarakat dan tokoh agama, karena dituding melakukan aktivitas yang melanggar norma agama. Pada akhirnya, hotel tersebut ditutup hingga saat ini. (Dewan)
Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: