seputarbanten.com-PULOMERAK, Dermaga VI yang dalam peroses pembangunan, disinyarir kerap dijadikan tempat mesum ketika malam hari. Keadaan yang sepi dan gelap dimanfaatkan oleh sebagian muda-mudi sebagai ajang mesum.

Keadaan seperti ini membuat Warga yang tinggal di Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Pulomerak mengeluhkan keberadaan dermaga VI yang kerap dijadikan sebagai tempat mesum ketika malam hari. Apalagi saat ini bulan ramadhan hal itu dinilai mengganggu nilai ibadah masyarakat ,Untuk itu mereka meminta agar aparat penegak hukum bisa bertindak.

Dede warga setempat mengatakan, selama ini dirinya sering melihat dan mendengar informasi tentang aktivitas muda-mudi yang menggunakan area dermaga VI sebagai tempat mesum.

"Kalau itu (mesum) udah lama, bahkan jauh sebelum Ramadan. Awalnya saya enggak percaya, cuma pas saya lihat malam-malam, ternyata benar ada beberapa pasangan yang sedang mojok," ujarnya, kemarin.

Heri, warga lingkungan bumiwaras mengatakan, biasanya pasangan muda mudi itu berkumpul antara pukul 21.00 WIB atau 22.00 WIB. Kebanyakan dari pemuda yang mojok dan melakukan tindakan mesum itu berasal dari daerah sekitar atau wanita penghibur yang sudah diajak berkencan diluar tempat hiburan.

"Biasanya mereka itu mojoknya di dalam pipa besar itu, bukan cuma sepasang aja yang mojoknya, banyak mas, kadang sampai larut malam mereka di sana," ujarnya.

Lebih lanjut Heri Menjelaskan, selain mojok pasangan yang datang ke sana juga kerap membawa miras. oleh sebab itu, warga sekitar merasa khawatir dan takut terjadi tindak kekerasan atau kriminalitas lantaran terpengaruh alkohol.

"Ada juga yang mojok sambil mabuk, kalau sudah kaya gitu kita juga merasa khawatir takutnya ada apa-apa kan kita juga yang repot, apalgi sekarang bulan puasa. Itukan namanya sudah mengganggu kenyamanan orang lain dalam beribadah," katanya.

Heri berharap, aparat penegak hukum bisa melakukan tindakan sehingga mereka tidak lagi melakukan perbuatan yang tidak terpuji dan mengganggu kenyamanan orang beribadah selama Ramadan. Selain itu, ada beberapa tempat lain yang sering dijadikan mojok dan pesta miras oleh segelintir pemuda.

"Kalau bisa sih dirazia atau ditindak. Soalnya kegiatan itu bukan hanya di sekitar dermaga VI saja, tapi ada juga di belokan Merak Beach Hotel," ujarnya.

Sementara itu, Kapolsek Pulomerak Kompol M Yosa Hadi mengatakan, pihaknya sudah mendapatkan laporan itu namun pihaknya belum bisa mengambil tindakan sebelum mendapatkan bukti langsung pasangan yang di area dermaga VI sedang melakukan tindakan asusila.

"Perlu kita buktikan dulu, kalau di Merak banyak tempat seperti itu. Razia sudah kita laksanakan, sebelum puasa sudah kita razia, sekarang kita pantau," ujarnya.

Yosa menilai, yang perlu ditindak adalah penyuplai atau penjual miras. Sebab keberadaanya sudah sangat mengkhawatirkan dan mengganggu masyarakat. Karena, orang yang terpengaruh miras bisa melakukan tindakan kejahatan seksual dan kriminalitas.

"Kalau menurut saya penyuplainya, kalau di Merak sendiri memang peredaran miras itu sangat banyak, kita hanya bisa menekan peredarannya saja," katanya.

Yosa memegaskan para pelaku tindakan asusila bisa dikenakan hukuman sesuai dengan undang-undang yang ada. Namun, sebelumnya polisi harus bisa membuktikan bahwa mereka memang melakukan tindakan perzinahan.

"Berdasarkan undang-undang, kategori mesum inikan kalau bahasa hukumnya kan perzinahan kita bisa kenakan hukuman ketika mereka sedang melakukan perzinahan," tukasnya.(Dewan)‎
Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: