seputarbanten.com-CILEGON ,Pemkot Cilegon menegaskan bakal meratakan semua warung remang-remang (warem) yang ada di Lingkungan Cikuasa Pantai dan Kramat Raya akhir Juli nanti. Langkah tegas itu diambil untuk mencegah terjadinya tindakan kriminalitas yang dilatarbelakangi minuman keras.

Asda I Taufiqurrohman mengatakan, pihaknya akan melakukan pembahasan terlebih dahulu untuk mengatasi permasalahan warem tersebut, Namun ia memastikan proses pembongkaran bakal dilakukan pada Juli ini.

Pembongkaran yang sudah dilakukan dua kali ini ada kecenderungan dibangun lagi sehingga tidak akan selesai penertibannya kalau seperti itu. Untuk itu, Pemkot Cilegon akan rapatkan dulu dan menanti kebijakan Walikota nanti.

"Secepatnya kita bongkar mudah-mudahan bulan ini bisa dibongkar. Karena medannya sulit tidak berada dalam satu hamparan, posisi bangunan enggak di tanah yang datar karena ada diatas dan sebgaainya. Keberadaan warem ini sudah mengkhawatirkan karena didalamnya banyak menyediakan miras, judi, sahung ayam dan lainnya komplit pokonya ngumpul semua di sana," katanya,

Taufiq beranggapan, pembongkaran itu sebaiknya tidak hanya dilakukan terhadap warem saja, melainkan semua bangunan yang ada dinlahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI). Sebab, selain dijadikan sebagai tempat prostitusi ternyata masih ada kegiatan lain yang meresahkan masyarakat seperti berjudi dan lainnya.

"Justru itu, jadi seharusnya bangunan liar yang ada di sana semuanya saja dibongkar. Karena lokalisasi itukan terselubung tidak bisa ditandai. Kalau saya inginnya dibongkar semua," ujarnya.

Selain itu, Taufiq akan berkoodinasi dengan pemikik lahan untuk melakukan pembahasan dan mencari solusi mengatasi permasalahan maraknya bangunan liar dan warem itu.

"Nanti kita akan kerjasama dengan PJKA seperti apa nanti tindakannya karena aset itu milik mereka. Lokasinya juga kumuh dan membahayakan yransportasi kereta api. Seharusnya mereka proaktif untuk menindaklanjuti itu, kalau kitakan hanya menjaga keamanan," tukasnya.

Untuk sementara lanjutnya Taufiq, Pemkot Cilegon terus melakukan pengawasan di dua lingkungan tersebut agar tidak ada yang mwndirikan bangunan di bekas pembongkaran yang dilakukan awal Juni lalu.

"Kalau menempatkan petugas di sana belumlah karena inikan bukan proyek, paling kita melakukan pengawasan saja terhadap keberadaan bangunan yang ada di sana. Kalau sanksi secara pribadi enggak ada, tapi kalau untuk sanksi tegasnya ya itu tadi kita bongkar," ujarnya.

Mengenai adanya beking yang melindungi keberadaan tempat maksiat itu, Taufiq menegaskan hal itu tidak akan menjadi halangan Pemkot Cilegon untuk melakukanbpenertiban dan memberantas tempat-tempat maksiat. Sebab, pihaknya telah mendapatkan dukungan dari Polisi, TNI dan masyarakat untuk melakukan penertiban di sana.

"Oknum itu bisa dari aparat, PNS, masyarakat, oknum itu enggak jelas. Kalau ada oknum ya diberantas saja," ujarnya.

Sementara itu, Camat Grogol Hudri Hasun mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan secara pasti kapan akan dibongkar karena masih menunggu keputusan pimpinannya.

"Kemrin kita sudah survei dan menetapkan lokasi yang memang ini rumah yang mau dibongkar. Kemarinpun di cegah agar tidak dibangun lagi, terus juga ada yang memang sudah jadi dan lebih rapih lagi. Tapi tetap akan dibongkar karena sudah jelas itu digunakan untuk kegiatan yang tidak baik,"Ujarnya.

Meski demikian Hudri memastikan tidak akan ada lagi warem di wilayahnya. Sebab, tindakan yang dilakukannya itu mendapatkan dukungan dari masyarakat dan sudah sesuai dengan prosedur.

"Kita tetap ada pengawasan dan kedepan dengan otang PJKA dan PLN agar kita tidak sembarangan memberikan tempat. Karena itu milik negara yang sifatnya harus kita amankan,"Imbuhnya.(Ipul)
Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: