seputarbanten.com-CILEGON, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Cilegon mencatat jumlah perusahaan yang memperpanjang Izin Mempekerjakan Tenaga Asing (IMTA) sebanyak 620 hingga Juli 2016. Pemerintahpun mulai memperketat pengawasan terhadap para pekerja asing yang ada di Cilegon untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Kabid Pelatihan dan Penempatan Kerja Disnaker Cilegon Mukhibin mengatakan, jumlah tersebut berdasarkan laporan dari perusahaan kepada pihaknya.

"Itukan yang dilaporkan ke kita, kan enggak menutup kemungkinan masih banyak temaga asing yang bekerja diperusahaan tapi enggak dilaporkan. Hal itu bisa saja terjadi," ujarnya, kemarin. 

Kata Mukhibin perpanjangan IMTA itu bisa saja diberikan oleh Pemerintah Pusat, Provinsi atau Kabupaten/Kota yang ada, tinggal disesuaikan dengan tempat bekerjanya saja. Sebab, orang asing yang bekerja ini bisa didua tempat sekaligus, tapi itu hanya berlaku bagi mereka yang memiliki jabatan tinggi saja.

"Pekerja asing itu rata-rata bekerja tidak di satu tempat. Jadi kalau tempat kerjanya ada didua tempat disatu provinsi yang mengeluarkan IMTA adalah provinsi, kalau dia bekerja didua provinsi yang ngurusnya pusat, kalau yang bekerjanya hanya di satu tempat yang mengeluarkannya itu pemerintah setempat. Jadi boleh kalau pekerja asing dengan jabatan yang tinggi ini bekerja lebih dari satu tempat," paparnya. 

Kata Mukhibin, dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan bebas visa bagi 70 negara, pihaknya terus melakukan upaya pemantauan kepada warga asing yang bekerja di Cilegon. Itu dilakukan agar tidak ada tenaga kerja ilegal yang masuk dengan bebas ke Cilegon.

"Dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean jadi pengawasanya lebih diperketat lagi, sebetulnya warga negara yang datang itu kebanyakan negara rawan seperti China, Afrika dan lainnya. Dan kebanyakan orang asing yang bekerja di Cilegon itu berasal dari Cina," ujarnya. 

Dijelaskan Mukhibin, alasan banyaknya warga Cina yang bekerja di Cilegon lantaran perekonomian Negara Tirai Bambu itu sedang bagus dan kebanyakan investor di beberapa negara adalah orang Cina.

"Sekarangkan investasi paling banyak Cina. Sebetulnya, narik investor dan industri Cina ini sedang merajai duni usaha. Rata-rata perusahaan yang ada banyak mempekerjakan warga Cina," ujarnya.

Disinggung mengenai kesiapan masyarakat Cilegon dalam menghadapi MEA, dia menegaskan semuanya harus siap, bahkan bukan masyarakat saja melainkan semua pihak yang terlibat didalamnya termasuk Pemkot Cilegon.

"Masyarakat harus siap dalam menghadapi MEA, makanya kita selalu mengupayakan dan berusaha memberikan bekal dan kemampuan kepada mereka agar bisa bersaing," ujarnya. 

Kasi Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja Retno mengatakan, pada 2015 sebanyak 1.200 orang dan mayoritas dari mereka berasal dari negara Korea, Cina, dan Jepang.

"Kebanyakan dari mereka yang ngurus IMTA sesuai dengan masa kerja yaitu antar empat sampai enam bulan, karena kebanyakan dibawah enam bulan," katanya.

Selain Kemenaker kata dia, ada beberapa pihak yang bisa mengeluarkan dokumen IMTA, yakni Pemprov Banten dan Pemkot Cilegon.
"Yang mengeluarkan IMTA itukan ada di Provinsi, Kementrian dan Pemkot Cilegon. Tapi jumlah tenaga kerja juga bisa bertambah, karena bisa jadi masih ada tenaga kerja yang enggak ke data," ujarnya.   

Disinggung mengenai pengawasan tenaga asing yang bekerja di Cilegon, dia menjelaskan, Disnaker selalu melakukan pengawasan dan pengecekan kelengkapan dokumen ke setiap perusahaan yang ada di Cilegon.

"Kita cek ke perusahaan dengan pengawas, kalau enggak bener ya harus keluar dari tempat kerja," ujarnya.(Teguh)
Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: