seputarbanten.com-Cilegon, Badan Keluarga Berencana dan Perlindungan Perempuan (BKBPP) Kota Cilegon menggelar Seminar Remaja yang bertajuk “Peran Remaja Dalam Mengantisipasi Kekerasan Terhadap Anak” yang diadakan di Gedung Serba Guna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Cilegon, Senin (08/08).

Seminar yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional tersebut turut mengundang Seto Mulyadi, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia. Kak Seto, panggilan akrabnya, mengatakan tidak ada anak yang bodoh. Semua anak pada dasarnya adalah anak yang cerdas.

“Semua anak pada dasarnya cerdas, dan spectrum cerdas itu luas. Ada yang cerdas di bidang musik, ada yang cerdas di bidang menggambar, cerdas di bidang mengaji, dan cerdas di bidang yang lain,” ungkapnya.

Untuk mendukung potensi kecerdasan tersebut, Kak Seto menghimbau sekolah haruslah menjadi tempat yang menyenangkan dan membuat anak menjadi gembira. Bukan malah membuat anak menganggap sekolah sebagai penjara. Karena menurutnya, kunci belajar yang efektif adalah belajar dalam suasana yang gembira.

“Kurikulum pendidikan harus ramah anak. Kurikulum Indonesia terlalu padat dan kurang berpihak kepada anak,” katanya.

Pria kelahiran Klaten tersebut pun menuturkan bahwa anak-anak memiliki rasa keingintahuan yang tinggi dan senang belajar. Untuk itu, orang tua harus mampu menjaga rasa tersebut.

“Anak-anak punya rasa ingin tahu yang luar biasa. Jadi mari kita jaga semangat belajar anak ini. Belajar bisa di mana saja. Belajar juga tidak harus dengan unsur kekerasan.  Jadikan proses belajar menyenangkan,” tuturnya.

Kak Seto juga menganggap masih banyaknya kekerasan yang terjadi pada anak, mulai dari lingkungan keluarga sampai pada ranah media elektronik. Di lingkungan keluarga, Kak Seto mencontohkan kekerasan tersebut bisa berupa bentakan pada anak sampai hukuman fisik seperti menjewer, memukul atau bahkan menendang. Sedangkan di media elektronik, Kak Seto menyayangkan kurangnya konten-konten pendidikan bagi anak-anak.

“Konten pendidikan di media elektronik hanya 0.07 persen. Sedangkan sinetron sebesar 30.97 persen. Kalau siaran TV itu tidak mendidik bagi perkembangan anak, lebih baik jangan ditonton,” ujarnya.

Lulusan Universitas Indonesia itu juga mengajak masyarakat untuk turut melaporkan ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) apabila menemukan tayangan yang tidak baik. Lebih lanjut, Kak Seto menyayangkan kurangnya lagu-lagu yang edukatif bagi anak-anak di masa ini.

“Anak-anak kita sekarang kurang lagu-lagu yang edukatif bagi mereka. Masa anak SD nyanyi ‘Kau membuat ku berantakan….’, atau nyanyi ‘Sakitnya tuh di sini di dalam hatiku’,” katanya disambut tawa puluhan peserta yang hadir.

Ayah dari empat orang anak itu juga mengibaratkan anak-anak seperti bunga.

“Semua anak indah. Semuanya indah. Anak-anak ibarat bunga. Kalau ditanam di tanah yang subur dan dirawat dengan baik, maka akan merekah dengan keelokan dan keindahannya. Semoga semua anak Indonesia dapat merekah dengan keelokan dan keindahannya,” ujarnya.

Kak Seto juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk sama-sama menjaga, melindungi dan mendidik anak agar impian untuk mewujudkan Cilegon sebagai kota yang ramah anak dapat terwujud.

Sementara Ketua BKBPP Kota Cilegon, Nur Fatma mengatakan Pemerintah Kota Cilegon telah melakukan upaya untuk mencegah tindak kekerasan terhadap anak.

“Upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Cilegon adalah pertama telah diterbitkannya Peraturan Daerah Kota Cilegon No 09 Tahun 2015 tentang perlindungan perempuan dan anak korban kekerasan sebagai payung hukumnya, kedua terbentuknya Forum Anak Kota Cilegon sebagai wadah partisipasi anak dalam pembangunan,” pungkasnya.

Turun Hadir pada acara tersebut Kepala BNN, Tim penggerak PKK Kota Cilegon , Ketua GOW Kota Cilegon , Iip Syafrudin Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Banten , Ketua Harian P3KC Kota Cilegon , dan Ketua LPA Kota Cilegon.(Teguh)
Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: