Penulis : Bambang Irawan.

Geger Cilegon 1888 adalah sebuah peristiwa berdarah yang sangat mengejutkan, karena terjadinya begitu cepat dan tiba-tiba. Sangat menarik untuk dicermati, bagaimana mereka dapat merahasiakan gerakan sebesar itu sampai-sampai para pejabat Belanda yang ada di Banten pun jadi kecolongan.

Dan saking dahsyatnya peristiwa itu, masyarakat Belanda yang ada di Banten maupun yang ada diluar Banten, dibuat terkejut dan bingung. Mereka dicekam oleh rasa ngeri yang teramat sangat, sehingga sebagian dari orang-orang bule itu kemudian mempersenjatai diri dan sebagian lainnya pindah ke kota-kota.

Setiap mendengar kabar, sekecil apa pun yang berkaitan dengan kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di daerah mana pun di pulau jawa, akan membuat mereka panik dan amat ketakutan.

Peristiwa mengerikan itu sangat banyak menelan korban jiwa, baik dari kalangan pemerintah kolonial Belanda maupun dari pihak pejuang sendiri. Dari pejabat tinggi sampai pejabat rendahan, bahkan istri dan anak-anak mereka pun habis dibantai. Pada episode terdahulu, telah dijelaskan dimana orang-orang Belanda itu dimakamkan.

Namun untuk pamongpraja dari kalangan pribumi yang meninggal, tidak diketahui secara pasti dimana mereka dikuburkannya, demikian juga dengan jasad-jasad para syuhada yang gugur dalam peristiwa itu. Akan tetapi, pada tahun 1970 an, dipinggir jalan Cilegon-Serang, atau tepatnya disekitar Kampung Gudang, terdapat sebuah makam.

Dan disana berdiri sebuah plang kecil yang terbuat dari papan, bertuliskan: Makam Ki Wasid. Berdasarkan tulisan tersebut, dapat dipastikan bahwa itu adalah makam Ki Wasid, salah seorang pemimpin utama Geger Cilegon yang terkenal.

Dan pada waktu itu, ruas jalan raya antara Sukmajaya dan masjid agung Nurul Ikhlas dikenal dengan nama jalan Ki Wasid, atau sekarang dinamakan jalan A. Yani. Tapi ketika jalan protokol itu mengalami pelebaran pada pertengahan tahun 1980an, kemudian makam Ki Wasid pun dipindahkan ke kampung Barokah, kelurahan Sukmajaya.

Lalu dimanakah para kiyai yang lainnya dimakamkan? Karena memang tidak diketemukan data yang pasti mengenai hal itu, maka saya mencoba mencari jawabannya dengan cara merekonstruksi peristiwa itu berdasarkan lokasi kejadian dan situasi setelahnya.

Lokasi terjadinya peristiwa Geger Cilegon itu tidak jauh dari Jombang Wetan, bahkan rumah salah seorang pejabat Belanda yang bernama Hendrik Francois Dumas, posisinya bersebelahan dengan rumah Haji Akhiya di Jombang Wetan.

Rumah Dumas merupakan sasaran pertama yang diserang oleh para pejuang, sementara dari rumah Haji Akhiya itulah penyerangan direncanakan, dimatangkan serta dikendalikan.

Yang menarik untuk diceritakan adalah, saat itu orang-orang Belanda malah hanya "menonton" ketika sekumpulan orang-orang bersenjatakan golok dan tombak, dengan diselingi oleh pekik takbir berdatangan ketempat itu, mereka mengenakan ikat kepala dan berseragam putih-putih.

Padahal orang-orang tersebut sedang bersiap-siap untuk melakukan serangan dan berbaris dari Jombang Wetan sampai ke Kampung Baru.
Dan pada waktu itu para pejabat Belanda memang sengaja dibuat untuk tidak "engeh", akibatnya mereka lengah dan pusat pemerintahan pun dapat direbut serta dikuasai.

Tapi sayangnya keberhasilan itu tidak bertahan lama, karena kemudian datang sepasukan bantuan militer dari Batavia. Karena kalah dalam persenjataan maka pasukan pejuang pun terpaksa harus meninggalkan pusat kota yang sudah berhasil direbutnya. Sementara itu, Jombang Wetan dalam keadaan kosong, karena rumah-rumah disana telah ditinggalkan oleh penghuninya ketika terjadi peristiwa.

Kemudian dengan melalui perantaraan kepala desanya, masyarakat Jombang Wetan memohon kepada pihak tentara Belanda agar mereka diperbolehkan kembali ke rumahnya masing-masing.

Dan permintaan itu pun dikabulkan oleh pihak tentara, dengan syarat mereka harus membantu menolong yang luka-luka serta menguburkan jasad-jasad yang menjadi korban, dan untuk jaminan bahwa mereka bersungguh-sungguh maka kepala desanya dijadikan sebagai sandera.

Penangkapan dan pengejaran terhadap para pejuang yang dilakukan oleh pasukan gabungan dari Serang dan Batavia, akhirnya membuahkan hasil. Pada tanggal 30 Juli, setelah terjadi pertempuran sengit di desa Sumur, Pandeglang, para pemimpin pejuang itu pun akhirnya gugur sebagai syuhada, dan semua jasadnya sebanyak 12 orang, dibawa ke Cilegon untuk keperluan identifikasi dan dokumentasi pemerintah kolonial.

Berdasarkan hasil identifikasi kemudian diketahui bahwa mereka adalah: Haji Wasid (Beji), Haji Tubagus Ismail (Gulacir), Haji Abdulgani (Beji), Haji Abdulgani (Arjawinangun), Haji Usman (Tunggak), Haji Khatab (Sempu), Haji Jaya (Citangkil), Haji Kasan (Sempu), Haji Mohamad Ali (Kubangwatu), Haji Rameli (Gulacir), Haji Ratib (Kubangwatu) dan Haji Tohar ( Mamengger), mereka adalah para pemimpin kelompok pasukan Geger Cilegon.

Karena yang mendapat tugas pengurusan mayat-mayat adalah masyarakat Jombang Wetan, sedangkan tempat pemakaman umum yang berada diwilayah Jombang Wetan adalah makam Tumenggung, maka dapat dipastikan seluruh mayat korban dari peristiwa itu dikuburkannya di Tumenggung.

Memang tidak diketemukan data sejarah mengenai hal ini, akan tetapi berdasarkan pengamatan tidaklah mungkin satu masyarakat akan menguburkan mayat di lokasi yang jauh dari tempat tinggalnya.

Dan keyakinan ini diperkuat oleh sebuah fakta bahwa pada tahun 1983, di areal Tumenggung pernah terjadi aktifitas penggalian sebuah kuburan dan tulang belulangnya dipindahkan ke Jakarta oleh salah seorang akhliwarisnya.

Adapun kuburan tersebut adalah kuburan Raden Tjakradiningrat, wedana Cilegon yang terbunuh dalam peristiwa Geger Cilegon yang terjadi pada tanggal 9 Juli 1888. Begitupun dengan kuburan Ki Wasid, menurut dugaan serta analisa saya, bahwa Ki Wasid juga dimakamkan di kuburan Tumenggung, Jombang Wetan, bersama dengan 11 orang sahabatnya yang sama-sama gugur dalam pertempuran di desa Sumur.
Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: