seputarbanten.com-SERANG, Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Muhammadiyah sekaligus pemerhati pendidikan, Dahnil Anzar menilai bahwa pada sekarang pelajar di Kota Serang tengah mengalami darurat etika.

Menurut Dahnil pelajar yang sudah berani melawan dengan gurunya sendiri. Itu disebabkan karena para pelajar saat ini tidak punya contoh sosok atau tokoh yang baik, dan mereka terpengaruh oleh tontonan yang mereka lihat, seperti contohnya korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, kekerasan dan segala macam yang menjadi konsumsi mereka di sosial media dan televisi,

“Mereka (pelajar-red) jadi miskin informasi dan contoh dengan kebaikan-kebaikan moral. Contoh tokoh yang baik, tokoh yang bisa diteladani sekarang ini masih sedikit. Maka pelajar sekarang dihadapkan darurat etika,” kata Dahnil saat diwawancarai oleh beberapa wartawan.

Oleh sebab itu, masih dikatakan Dahnil, pelajar hari ini butuh contoh sosok-sosok yang baik.

“Dan contoh yang paling dekat itu adalah keluarga, kemudian lingkungan terkecil mereka yaitu sekolah. Maka orang tua dan keluarga adalah kelompok paling penting diperkuat, di tengah serbuan informasi yang buruk tentang dunia, tentang lingkungan. Bahkan keluarga harus menjadi benteng yang paling kuat dalam memberikan contoh dan nilai, termasuk guru di sekolah. Ini pun yang kemudian bisa membantu membangun karakter mereka serta kemudian menghadirkan pelajar-pelajar kita, meminjam istilah penulis Gunnar Myrdal sebagai pelajar yang memiliki sifat hard culture,” paparnya.

Dahnil mengimbuhkan, orientasi pendidikan juga harus difokuskan pada karakter, karena orientasi pendidikan sangat mengarah pada pembenahan karakter bangsa.

“Karena salah satu masalah utama kita ini adalah membangun karakter. Yang pintar dan cerdas, dan ini tinggal dibentuk saja melalui intensifitas akademik. Kemudian karakter kuat itu juga mempunyai nilai kebudayaan yang positif. Misalnya mengantri, dan juga karakter disiplin, jujur dan tidak karakter suka menilai orang lain. Tetap berfikir positif yang harus dihidupkan,” ucapnya.

Dahnil menuturkan, jika dilihat dari riset-riset terdahulu, seperti pada buku Mentalitas Pembangunan karya Kunto Diningrat disebutkan, mentalitas orang Indonesia itu tidak disiplin, orang Indonesia itu komitmennya rendah terhadap nilai. Maka yang harus diubah oleh orang Indonesia itu adalah kebudayaan, disiplin komitmen dan sebagainya.

Seperti yang tertulis di dalam buku Gunnar Myrdal lewat bukunya yang berjudul Asian Drama, Myrdal menulis, masih dikatakan Dahnil, orang Asia itu memiliki karakter soft culture. Artinya rendah komitmen, disiplin rendah dan produktifitas rendah.

“Sedangkan Eropa punya karakter hard culture, dia punya disiplin tinggi dan produktifitas tinggi, kemudian komitmen terhadap nilai juga tinggi. Nah Indonesia termasuk soft culture,” terangnya. (CTB-).
Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: