Oleh : BAMBANG IRAWAN (LBC)

SEJARAH-Dalam peristiwa yang terjadi pada tanggal 9 Juli 1888, seluruh pejabat pemerintahan kolonial Belanda yang ada di wilayah Afdeling Anyer menjadi korban, Dari pejabat paling tinggi sampai bawahan, baik Eropa maupun pribumi, semuanya dibantai habis oleh para pejuang.

Dan peristiwa ini merupakan satu-satunya peristiwa perjuangan terbesar bangsa Indonesia yang sempat membuat pusat pemerintahan kolonial lumpuh total. Namun sebaliknya, kejadian ini menjadi catatan sejarah terburuk sepanjang pemerintahan kolonial Belanda, sebab tidak ada peristiwa perlawanan rakyat yang sehebat dan sedahsyat ini selama kaum penjajah itu memerintah dan berkuasa di bumi nusantara.

Sejak kesultanan Banten dibumihanguskan dan wilayahnya dipersempit, kemudian bangsa Eropa itu membagi kekuasaan di Banten menjadi tiga wilayah administrasi pemerintahannya, yaitu Afdeling Caringin, Afdeling Hulu dan Afdeling Anyer. Pada saat itu Cilegon merupakan ibu kota Afdeling Anyer, yang kekuasaannya meliputi tiga wilayah kawedanaan, yaitu kawedanaan Kramatwatu, kawedanaan Anyer dan kawedanaan Cilegon sendiri. Karena Cilegon adalah pusat pemerintahan Afdeling, sehingga merupakan tempat tinggal pejabat-pejabat pamongpraja, Eropa dan pribumi, yakni Asisten Residen, Kontrolir Muda, Patih, Wedana, Jaksa, Asisten Wedana, Ajun Kolektor, Kepala Penjualan Garam dan seorang insinyur pengeboran kelas 2 di Departemen Pertambangan di Cilegon.

Bagi sebagian masyarakat Cilegon yang hidup di era pasca kemerdekaan sampai tahun tujuh puluhan, tentu pernah mengetahui atau mendengar istilah “Kerkhoff”. Sebuah tempat yang lokasinya di Kampung Baru, atau tepatnya di bekas bangunan bioskop Apollo Cilegon.

Pada masa itu Kerkhoff juga dikenal dengan sebutan kuburan Belanda, karena memang di tempat itulah orang-orang Belanda dimakamkan apabila diantara mereka ada yang meninggal dunia.

Demikian juga ketika peristiwa Geger Cilegon meletus pada tanggal 9 Juli 1888, seluruh pejabat Eropa dan anggota keluarganya yang dibantai oleh para pejuang juga dimakamkan di tempat itu. Kemudian atas kebijakan dari Asiten Residen penggantinya, van Hasselt, dibuatlah sebuah tugu atau monument peringatan.

Bagian bawah tugu itu berbentuk segi empat dan mempunyai empat sisi. Pada sisi depan dipasang photo-photo mereka, dan diatasnya bertuliskan; “Ter nagedachtenis slachtoffers gevallen op ~9 Juli 1888 tijdens de onlusten te Tjilegon". Sementara pada ketiga sisi lainnya dituliskan seluruh nama-nama orang yang menjadi korban pada peristiwa 9 Juli 1888 itu, walau pun tentu saja, untuk pamongpraja dari kalangan pribumi tidak dimakamkan disana, namun nama-nama mereka tetap tertulis pada tugu tersebut sebagai tanda peringatan dan penghargaan.

Akan tetapi untuk nama-nama yang dituliskan pada tugu tersebut akan dijelaskan serta diceritakan pada episode yang lain. (Bersambung).

Lembaga Budaya Cilegon (LBC)
Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: