Oleh : BAMBANG IRAWAN (LBC)

Sejak dihapuskannya kesultanan Banten oleh Inggris pada tahun 1813, sejak saat itu kehidupan sosial masyarakat Banten berada dibawah kendali kekuasaan penjajah. Kemudian setelah tujuh puluh tahun berlalu, timbulah kerinduan dari rakyat Banten untuk memiliki kembali pemerintahannya sendiri. Dan gagasan untuk mewujudkan keinginan itu, pada mulanya digelorakan oleh Haji Abdul Karim di tanah kelahirannya, Lempuyang.

Semangat perang sabil dikobarkan, kesadaran pun dibangkitkan! Banten adalah sebuah dar al-Islam yang pada saat ini sedang diperintah oleh orang-orang asing, namun pada suatu ketika nanti kekuasaan itu harus direbut kembali.

Ketika Haji Abdul Karim meninggalkan kampung halamannya untuk bermukim di tanah suci, lalu gagasan itu dilanjutkan oleh murid-muridnya; Haji Singadeli dari Kaloran, Haji Asnawi dari Bendung Lempuyang, Haji Abubakar dari Pontang, Haji Tubagus Ismail dari Gulacir dan Haji Marjuki dari Tanara. Membangun kembali kesultanan di Banten dan mengusir pemerintahan asing yang dianggap kafir adalah merupakan tujuan akhir.

Dan pada satu kesempatan, Haji Tubagus Ismail menyampaikan, bahwa menurut para ulama di Mekah, Banten akan mempunyai rajanya sendiri tidak lama setelah pohon-pohon johar ditanam dipinggir-pinggir jalan. Kemudian semangat perjuangan rakyat Banten pun berkobar ke berbagai penjuru, dan bukan hanya di wilayah timur saja namun meluas sampai ke barat.

Dan disana, semangat anti penjajahan itu mendapat sambutan dari Haji Wasid dan para kiyai lainnya yang ada di distrik Cilegon. Setelah melalui serangkaian pertemuan rahasia dan musyawarah-musyawarah yang dihadiri oleh para kiyai dari seantero Banten, kemudian pusat pemerintahan Afdeling Anyer pun dapat direbut dan diduduki oleh para pejuang.

Dan bersamaan dengan didudukinya pusat pemerintahan kolonial Belanda, pada tanggal 9 Juli 1888, jam 9, bertempat di Jombang Wetan Cilegon, telah diproklamasikan berdirinya kerajaan di Banten.

Sebuah peristiwa sejarah yang luput dari perhatian, bahkan masyarakat Banten sendiri hampir tidak ada yang mengetahui jika sebenarnya mereka memiliki sebuah catatan sejarah yang pantas untuk dibanggakan.

Hal ini disebabkan karena kurangnya perhatian dari berbagai kalangan, sehingga kekayaan sejarah yang dimiliki oleh rakyat Banten ini nyaris terlupakan.

Ironis memang, padahal satu-satunya peristiwa yang mempunyai catatan lengkap serta data-data sejarah yang paling detil dan valid adalah peristiwa yang terjadi pada tanggal 9 Juli 1888, jika dibandingkan dengan peristiwa sejarah perjuangan lainnya yang ada di Indonesia.

Karena catatan sejarah dari peristiwa ini merupakan hasil penelitian dan disertasi Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, yang diberi judul: The Peasants' Revolt of Banten In 1888: Its Conditions, Course, and Sequel; A Case Study of Social Movement in Indonesia,

yang kemudian dijadikan sebuah buku setebal 509 halaman, diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Hasan Basari, disunting oleh Bur Rasuanto, dengan judul; Pemberontakan Petani Banten 1888. Buku yang mengulas tentang sebuah studi kasus mengenai gerakan sosial di Indonesia itu, diterbitkan atas kerjasama dengan Yayasan Ilmu-ilmu Sosial oleh PT.Dunia Pustaka Jaya, tahun 1984.

Untuk memberikan keyakinan kepada kita sekalian bahwa buku "Pemberontakan Petani Banten 1888" itu memang memiliki data sejarah yang valid dan pantas untuk dijadikan rujukan, tentu saja kita harus menelusuri dari mana saja sumber-sumber sejarah atas buku itu berasal. Berdasarkan informasi yang ada, bahwa sumber-sumber sejarah yang dijadikan dasar penulisan buku tersebut, diambil dari berbagai data yang ada di museum Leiden, Belanda, yang terdiri dari dokumen-dokumen berupa: Manuskrip dan sumber-sumber resmi yang dicetak, diantaran.

Manuskrip dan sumber-sumber resmi yang dicetak, diantaranya adalah Laporan dari Residen Banten ke Gubernur Jenderal atau Laporan dari Komandan Tentara kepada Residen Banten dan Laporan Director of the Departement of Interior (DDI);

keterangan yang diberikan oleh para saksi atau mereka yang ditangkap setelah terjadi peristiwa (PV), dan surat kabar (koran) pada masa itu, yaitu: Bataviasch Handelsblad (Rotherdam dan Amsterdam, 1888, 1889); De Indische Mail, nn.p, 1886; Java Bode (Batavia), 1885 - 1889; buku-buku yang ditulis oleh orang Belanda, termasuk buku yang ditulis oleh Djajadiningrat dan Multatuli (Douwes Dekker) serta beberapa artikel yang mengulas tentang peristiwa itu.

Gambar diatas adalah sebuah rumah yang lokasinya di Jombang Wetan. Dari rumah itulah peristiwa 9 Juli 1888 dimatangkan serta dikendalikan, dan di tempat itu pula salah seorang kiyai pernah dinobatkan sebagai raja Banten.
(BERSAMBUNG)
Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: