Penulis : Bambang Irawan.

Sebenarnya Banten mempunyai potensi untuk untuk dijadikan sebagai daerah "Wisata Sejarah", karena di wilayah ini terdapat berbagai macam kekayaan berupa peninggalan sejarah yang sangat menarik untuk diketahui.

Namun dalam kesempatan ini yang akan dibahas hanya terbatas pada peninggalan peristiwa sejarah perjuangan rakyat Banten, yang kemudian dikenal dengan peristiwa Geger Cilegon 1888, diluar peninggalan situs kesultanan dan sejarah lainnya.

Peristiwa Geger Cilegon memang berlangsung begitu singkat namun menggoreskan catatan sejarah yang sangat panjang serta meninggalkan tempat-tempat bersejarah yang layak untuk dikenang dan menarik untuk dikunjungi.

Bagaimana pun harus diakui, bahwa gerakan perjuangan rakyat Banten pada saat itu boleh dibilang sukses, sekalipun mereka berperang dengan hanya menggunakan senjata seadanya.

Karena dilakukan dengan taktik dan strategi serta perencanaan yang matang, kenyataannya sempat berhasil dengan gemilang. Namun karena disebabkan oleh faktor teknis, akhirnya pertempuran di Toyomerto telah menjadi titik balik dari awal sebuah kekalahan, yang mengakibatkan anggota pasukan pejuang jadi tercerai berai dan menjadi lemah.

Akan tetapi, seandainya tidak kedatangan sepasukan bantuan militer Belanda dari Batavia, boleh jadi para pejuang itu masih mampu mempertahankan wilayah yang telah direbutnya.

Kemudian, setelah bergerilya selama selama 21 hari melawan pasukan gabungan tentara Belanda, akhirnya perjuangan pun berakhir di desa Sumur.

Setelah terlebih dahulu patroli tentara Belanda menyisir setiap tempat yang dianggap sebagai basis para pejuang, desa Kedung dan Terate Udik dibakar karena penduduk disana tidak mau menunjukan tempat persembunyian para pejuang.

Begitu pun dengan di desa Beji, rumah-rumah habis dilalap api, sementara desa-desa lainnya seperti Cibeber, Saneja, Ciwedus, Tegal Cabe, Tunggak, Mamengger termasuk Pecek juga diucek-ucek. Tak sejengkal tanah pun di desa Ciore yang lolos dari penggeledahan serdadu Belanda,

serta masih banyak lagi tempat-tempat yang menjadi saksi sejarah selama peristiwa itu berlangsung, yaitu Terate, Wanasaba, Gulacir, Gudang Batu, Keganteran, Tanara, Lempuyang juga lokasi lainnya dan masing-masing mempunyai kisahnya sendiri yang sangat menarik untuk diketahui.

Seandainya di tempat-bersejarah itu dibangun sebuah tugu dan dituliskan sejarah singkatnya, tentu ini akan menarik perhatian para wisatawan.

Sambungan
Setelah dilakukan penggeledahan dan pencarian ke berbagai tempat, akhirnya sebanyak 204 orang ditangkap.

Tapi karena sulitnya mencari orang yang bersedia memberikan kesaksian dalam sidang pengadilan, kemudian 94 orang dilepaskan karena tidak ada bukti. Dan sebanyak 89 orang dihukum kerja paksa selama 10 sampai 15 tahun, sedangkan sebanyak 99 orang dibuang ke 27 propinsi yang tersebar diseluruh Indonesia dan sebanyak 11 orang dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung.

Yang menarik untuk diceritakan (tapi nanti pada episode berikutnya), bahwa ada salah seorang dari mereka yang akan digantung itu meminta ijin kepada serdadu Belanda untuk melakukan shalat dua rakaat.

Kemudian ketika sujud ia didapati sudah meninggal dunia, tapi karena komandan Belanda tidak percaya pada kejadian itu, maka ia pun tetap memerintahkan agar kiyai tersebut ditarik ke tiang gantungan.

Kembali kepada judul, salah satu tempat bersejarah yang fenomenal adalah (bekas) penjara Cilegon. Pada saat terjadi peristiwa Geger Cilegon, penjara menjadi salah satu target penyerangan, dengan tujuan melepaskan semua orang yang ada didalamnya. Dan pada peristiwa yang sama, disana juga sempat dijadikan sebagai tempat berlindung bagi anggota keluarga para pejabat pemerintah kolonial yang sedang berusaha untuk menyelamatkan diri dari jejaran para pejuang.

Kemudian ketika bantuan pasukan Belanda dari Batavia memasuki Cilegon, gedung panjara itu dijadikan sebagai markas pertahanan selama mereka mengadakan tindakan penangkapan dan pencarian para pejuang.

Gambar diatas adalah gedung panjara Cilegon dan para pejuang yang ditangkap, sebelum dihadapkan ke sidang pengadilan mereka dijebloskan kedalam penjara itu. Dan diatas tanah bekas bangunan gedung penjara tersebut sekarang berdiri gedung Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Cilegon.

Seandainya ditempat itu dibuat tugu atau monumen dengan dituliskan kisah singkatnya pada sebuah prasasti disana, tentu ini akan menjadi rangkaian tempat-tempat bersejarah di Banten yang sangat menarik untuk dikunjungi.
(Lembaga Budaya Cilegon)
Share To:

PortalMuslim.com

Media Referensi Muslim - Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Post A Comment: