(Bagian Ketiga).

Oleh : Bambang Irawan
Cerita tentang hilangnya jasad Haji Akhiya ketika akan dimandikan tak lebih dari sebuah dongeng menjelang tidur bagi anak keturunannya, dan itu berlangsung dari jaman ke jaman serta dari generasi ke generasi.

Bahkan cerita mistis yang sempat didengar oleh penulis bukan sebatas itu saja, dimana setelah jasad para kiyai dan beberapa pengikutnya itu dikebumikan di suatu tempat yang kemudian tempat itu dikenal dengan nama kuburan kiyai Pegantungan -- pada malam harinya disekitar tempat itu terlihat pancaran sinar yang sangat terang.

Karena pada saat itu wilayah Pegantungan masih merupakan tanah kosong yang hanya ditumbuhi oleh pepohonan serta belum ada bangunan rumah-rumah seperti sekarang ini, maka sinar yang memancar itu dapat terlihat dari pemukiman penduduk dan banyak orang yang dapat menyaksikannya.
Kisah tentang Haji Akhiya tak ubahnya hanya merupakan mitos yang berkembang ditengah masyarakat yang sulit diterima oleh akal sehat. Akan tetapi betapa mengagetkannya ketika pada suatu ketika ada sebuah berita yang terdengar, dimana tersiar kabar bahwa Haji Akhiya masih hidup di satu daerah dan berkirim salam kepada anak keturunannya yang ada di Cilegon.

Sekitar tahun 1977 tersiar kabar bahwa di Cikarang, Bekasi, ada seorang kakek tua renta yang menitipkan amanat berupa salam untuk anak cucunya yang berada di Cilegon, dengan ciri-ciri bahwa dihalaman rumahnya terdapat pohon sawo.

Secara kebetulan, di halaman rumah peninggalan Haji Akhiya memang ada pohon sawo, dan ketika menjelang peristiwa Geger Cilegon 1888 meletus, para kiyai berkumpul di rumah tersebut dalam rangka mengadakan rapat untuk mematangkan gerakan.

Para kiyai yang hadir dalam pertemuan yang bersifat rahasia itu mereka adalah; Haji Sangid dari Jaha, Haji Safiudin dari Leuwibeureum, Haji Madani dari Ciore, Haji Halim dari Cibeber, Haji Mahmud dari Terate Udik, Haji Iskak dari Saneja, Haji Muhamad Arsyad seorang kepala penghulu di Serang dan Haji Tubagus Kusen penghulu di Cilegon.

Padahal rumah Haji Akhiya itu letaknya tidak jauh dari komplek perumahan amtenar, namun karena pada hari itu situasinya sedang ramai oleh kegiatan hajatan sehingga pertemuan penting itu dapat lolos dari pantauan para pejabat pemerintah kolonial Belanda.

Maka tidaklah mengherankan, ketika pada hari berikutnya rumah tinggal seorang juru tulis di pengadilan distrik -- suatu jabatan yang tidak disenangi serta dibenci oleh rakyat
bernama Hendrik Francois Dumas menjadi sasaran penyerangan.

Malam hari itu, tanggal 8 Juli 1888 kiyai Haji Tubagus Ismail memimpin pasukannya yang terdiri dari dari para simpatisan yang berasal dari Arjawinangun dan Gulacir bergerak menuju Cilegon untuk bergabung dengan para pejuang dari Cibeber, Saneja dan dibantu dari desa-desa sekitarnya dalam rangka persiapan untuk melakukan serangan yang telah direncanakan, bersama-sama dengan para pejuang dari wilayah utara yang dipimpin oleh Haji Wasid, kiyai Haji Usman dari Tunggak, Haji Abdulgani dari Beji dan Haji Nasiman dari Kaligandu.
Sesuai dengan hasil rapat yang telah diputuskan, penyerangan akan dilaksanakan pada hari Senin pagi jam 8, tanggal 9 Juli. Mungkin karena tidak sabar menunggu waktu, sekitar pukul 2 dini hari beberapa anak buah kiyai Haji Tubagus Ismail mendatangi rumah Dumas dan membangunkan pemiliknya. Mendengar suara pintu yang digedor-gedor dengan keras maka keluarga itupun terbangun.

Begitu Dumas membuka pintu, empat orang menerabas masuk dan menyerangnya dengan kelewang. Dalam keadaan terluka Dumas berupaya menyelamatkan diri berlari berlari ke rumah tetangganya, jaksa bernama Mas Sastradiwirja, yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumahnya.

Sedangkan istri dan kedua anak tertuanya melarikan diri ke rumah yang ada disebelahnya. Istri Dumas sempat diserang dan mendapatkan luka dibahu kanan, namun karena suasana gelap, ia dikira babu dan dibiarkan berlari ke rumah ajun kolektor Raden Purwadiningrat, tetangga paling dekat juga teman sejawat.

Sementara itu babu yang sebenarnya, Minah sedang menggendong anak Dumas yang paling kecil diminta untuk menyerahkan anak yang berada dalam gendongannya. Tapi Minah menolak, bahkan ia berupaya melindungi anak Dumas dari bacokan para penyerangnya dengan badannya sendiri dan berusaha meloloskan diri melalui pintu belakang.

Untuk menggambarkan betapa bertetangganya antara rumah Haji Akhiya dengan rumah Dumas, bahwa hanya beberapa langkah saja dari pintu belakang itu Minah berjalan sudah sampai di pekarangan rumah Haji Akhiya.

Dalam kegelapan Minah terua berlari berusaha menyelamatkan diri, kemudian ia jatuh pingsan disebuah pesawahan karena tubuhnya dipenuhi oleh luka bacokan.

Dalam waktu yang bersamaan, nasib majikannya pun masih dapat diselamatkan, Dumas masih beruntung karena dapat bersembunyi di rumah jaksa dan saat itu keburu masuk waktu sholat subuh, sehingga upaya penangkapan terhadap dirinya tidak dilanjutkan.

Pada mulanya mereka terus memaksa agar jaksa menyerahkan Dumas dengan segera, bahkan mengancam akan mendobrak pintu rumah dengan paksa. Namun perlahan-lahan kegaduhan itu pun berlalu, rupa-rupanya mereka harus segera kembali ke posnya di Saneja, untuk mempersiapkan serangan besar-besaran yang sebentar lagi akan dimulai.

Dan ketika serangan itu terjadi, bukan hanya Dumas saja yang tewas, namun seluruh jajaran para pejabat pemerintah kolonial Belanda yang ada di Afdeling Anyer tamat riwayatnya, termasuk anggota keluarga mereka turut meregang nyawa.

Peristiwa pembantaian para pejabat Belanda yang terjadi pada tanggal 9 Juli 1888 adalah merupakan satu-satunya gerakan perlawanan rakyat dengan skala luas serta dilakukan secara serempak, sistimatis, terencana dan terorganisir.

Sejarah perjuangan rakyat Banten yang memiliki visi dan misi untuk merebut kemerdekaan serta mendirikan suatu pemerintahan yang berdaulat, ini juga merupakan bentuk perlawanan bangsa Indonesia terhadap pemerintahan kolonial Belanda selama kaum penjajah itu berkuasa di bumi nusantara. Namun sangat ironis, tatkala orang Banten sendiri tidaj mengetahui akan hal ini bahkan membiarkan sejarah besar ini terkubur dan terlupakan selama lebih dari seratus tahun.

Oleh karenanya, kini telah tiba saatnya bagi kita untuk mengangkat dan memperkenalkan kembali sejarah perjuangan terbesar yang pernah dimiliki oleh bangsa ini.
(Lembaga Bantuan Hukum)
Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: