(Bagian Kesatu).

Oleh : Bambang Irawan

Sulit diterangkan berdasarkan akal, namun inilah fakta yang penulis temukan ketika menelusuri serta melakukan penelitian tentang peristiwa sejarah Geger Cilegon 1888. Oleh karenanya sekalipun kisah ini beraroma mistis dan berbau mitos tapi karena didukung oleh fakta, maka dianggap layak untuk diceritakan.

Boleh jadi kejadian ini merupakan sebuah kebetulan belaka, namun kita juga tidak boleh mengabaikan begitu saja terhadap fenomena ganjil seperti kejadian ini. Terlalu banyak rahasia Tuhan yang memang akal manusia tidak mampu menjangkaunya.
Sebagaimana pernah disinggung pada episode sebelumnya,

bahwa ada 11 orang yang dijatuhi hukuman gantung oleh pemerintah kolonial Belanda, mereka adalah: Samidin, Taslin, Kamidin, Haji Akhiya, Haji Mahmud, Dulmanan, Sakimin, Haji Hamim, Dengi, Oyang dan Jaro Kasar. Hukuman gantung adalah merupakan hukuman terberat yang dijatuhkan kepada pejuang pada saat itu. Berdasarkan kesimpulan saya, bahwa kesebelas orang tersebut dapat diklasifikasikan kedalam dua kategori, yaitu mereka yang berbuat langsung melakukan pembunuhan terhadap para pejabat pemerintah kolonial Belanda, sementara yang lainnya adalah mereka yang dianggap bertanggungjawab atas terjadinya peristiwa itu, sebut saja Haji Akhiya, tokoh misterius dibalik meletusnya peristiwa Geger Cilegon.

Banyak sisi-sisi menarik untuk diceritakan atas sosok Haji Akhiya, apakah tentang kehidupan pribadinya maupun peranannya dalam peristiwa yang terjadi pada tanggal 9Juli 1888. Berdasarkan data-data sejarah, sangat sedikit informasi mengenai keterlibatan Haji Akhiya dalam peristiwa itu. Tapi berdasarkan fakta-fakta dan kesimpulan yang ada, ia memegang peranan penting dan sangat menentukan.

Tiga hari menjelang meletusnya peristiwa besar itu, nama Haji Akhiya baru muncul secara tiba-tiba serta tidak disangka-sangka. Sebelumnya, kiyai misterius itu tidak terlihat turut menghadiri berbagai pertemuan yang dilakukan oleh para kiyai dari seantero Banten.

Begitupun pada pertemuan-pertemuan yang dilakukan pada enam bulan terakhir menjelang pelaksanaan, yaitu diantara bulan Pebruari sampai Maret 1888: Pertemuan dilaksanakan di rumah Haji Marjuki, di Tanara, kemudian di Terate di rumah Haji Asngari lalu di rumah Haji Iskak di Saneja, yang dihadiri oleh kiyai-kiyai dari Serang, Anyer dan Tangerang, termasuk Haji. Wasid, Haji Abubakar, H. Asnawi, H. Mohamad Arsyad, H. Akhmad, H. Mohamad Asik, H.M. Arsyad Tawil, kiyai Mohamad Ali dari Mandaya serta kiyai Murangi dari Tirtayasa.
Kemudian diantara bulan Maret sampai April 1888: Pertemuan dilaksanakan di Beji di rumah Haji Wasid, di Kaloran Serang di rumah H. M. Singadel serta di Bendung Lempuyang di rumah H. Asnawi.

Begitu seterusnya sampai pada bulan Mei pertemuan-pertemuan itu dilaksanakan semakin gencar dan semakin banyak yang hadir, akan tetapi tidak terdapat nama Haji Akhiya. Namun yang mengejutkan, justru pematangan dari pertemuan-pertemuan itu dilaksanakan di Jombang Wetan, di rumah Haji Akhiya. Dari sana pula taktik dan strategi penyerangan dikendalikan, maka sekalipun Haji Akhiya tidak terlibat langsung dalam penyerangan dilapangan namun ia adalah orang pertama yang ditangkap.

Ia juga dijatuhi hukuman yang terberat oleh Belanda, yaitu hukuman mati.
Sehari menjelang meletusnya peristiwa Geger Cilegon, Haji Akhiya mengadakan hajatan sunatan kedua putranya yaitu Ki Asif dan Ki Ma'ad, secara besar-besaran dengan mengadakan acara arak-arakan.

Mereka mengenakan seragam putih-putih dengan ikat kepala dan bersenjatakan golok serta tombak, bergerak berbaris sampai ke Kampung Baru. Dengan diiringi tabuhan dan diselingi pekik takbir barisan terus bergerak dan bertambah banyak. Namun siapa yang menyangka jika orang-orang yang melakukan arak-arakan itu ternyata mereka adalah para pejuang yang sedang menabuh genderang perang untuk beraksi besok pagi, tanggal 9 Juli.

Ketika Haji Akhiya ditangkap dan akan dijatuhi hukuman gantung, ia berpesan kepada istrinya, Ratu Kapol, juga kepada anak tertuanya, Nyi Masitoh agar mereka merelakan dan mengikhlaskan kepergiannya bahkan melarang mendatangi serta menyaksikan dirinya dihukum gantung.

Ia mengatakan, bahwa apa yang terjadi pada dirinya adalah merupakan tanggungjawab dan sebuah takdir yang tak bisa ditawar-tawar. Jadi wajar kalau anak istrinya tidak sempat mengantar jasad orang yang paling dicintai dan dihormati itu sampai ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Namun akhirnya, pada satu ketika mereka mendengar kabar, bahwa ada salah seorang kiyai yang digantung namun jasadnya hilang tidak diketemukan pada saat dimandikan dan akan di sholatkan oleh warga masyarakat disana.

Pada mulanya kejadian itu sangat dirahasiakan, sebab khawatir terdengar oleh pihak Belanda, dan mereka akan dipersalahkan. Tapi dengan berjalannya waktu, rumor itu tersebar juga. Sebuah kabar yang sangat menggemparkan, bahwa jasad haji Akhiya menghilang sementara yang dimandikan serta dikuburkan pada waktu itu hanyalah "gadebong" atau batang pisang. Dan lebih mengejutkan lagi, setelah 90 tahun berlalu sejak kejadian itu, yaitu pada tahun 1980 an, ada sebuah kabar bahwa seorang kakek tua menitip salam kepada seorang warga Tambun agar ia menyampaikan pesan buat anak keturunannya yang ada di Jombang Wetan dengan ciri-ciri di halaman rumahnya ada pohon sawo, dan itu salah satu ciri rumah Haji Akhiya. Lalu siapa si kakek tua tersebut, apakah ia Haji Akhiya..?

Karena pada saat itu semua anak keturunan Haji Akhiya belum punya waktu luang maka pesan itu terabaikan dalam waktu yang cukup lama. Dan baru pada tahun 1990an, mereka mendatangi rumah orang yang pernah diberi amanat membawa pesan dari si kakek tua, di Tambun, yang kemudian ia mengantarkan anak keturunan Haji Akhiya itu ke Cikarang.

Tapi sayangnya ketika mereka sampai ditempat yang dituju, si kakek tua itu sudah meninggal dunia dan hanya dapat berjiarah ke makamnya saja. Mungkin cerita semacam itu hanya akan dianggap biasa saja bagi orang yang hanya mendengarnya.

Namun cerita itu menjadi luar biasa tatkala saya mengadakan penelitian dan penelusuran tentang sejarah Geger Cilegon dan mengunjungi rumah tersebut, yang beralamatkan di desa Banjarsari, kecamatan Sukatani, Cikarang, Bekasi 17635, RT.08/ RW. 04 No. 59. Disana saya bertemu dengan keluarga besar anak keturunan si kakek tua yang diceritakan tadi.

Dan saya sangat terkejut mendengar salah seorang cucu si kakek tua itu menceritakan bahwa kakeknya dulu pernah berpesan kepada anak cucunya agar mereka mencari saudara-saudaranya yang ada di Cilegon. Cerita itu sama persis dengan pesan yang pernah dibawa oleh seseorang beberapa tahun lalu ke Cilegon. Bersambung
(Lembaga Budaya Cilegon)
Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: