Oleh : Bambang Irawan

Pada episode yang lalu telah diceritakan bahwa pada saat itu kondisi kota Serang sudah dikepung oleh beberapa kelompok pejuang yang berasal dari berbagai wilayah, yaitu dari Bendung, Terumbu, Keganteran serta dari distrik Serang dan sekitarnya.

Diceritakan pula bahwa pada saat pertemuan terakhir di Saneja, beberapa kiyai tidak turut hadir, yaitu para kiyai dari Terumbu dan Haji Muhamad Asik dari Bendung, Lempuyang.

Oleh karenanya sangatlah wajar jika Haji Mohamad Asik tidak langsung percaya ketika mendengar kabar bahwa penyerangan akan dimulai besok pagi. Namun setelah mendapat pesan tertulis dari Haji Wasid, maka ia pun segera mengumpulkan murid-muridnya.

Dan pagi harinya, masyarakat Bendung datang berduyun-duyun untuk menghadiri acara pemberkatan yang dipimpin langsung oleh Haji Mohamad Asik. Sebelum berangkat ke medan perang para pejuang itu diperintahkan untuk minum air suci, dengan maksud mendapatkan kekebalan sehingga akan mampu bertahan menghadapi pasukan lawan.

Demikian juga yang terjadi di Terumbu, disana berlangsung acara penyucian diri yang dipimpin oleh Haji Mohamad Kanapiah dengan dibantu oleh Haji Akhmad, Haji Baki dan Dirham.

Pada malam sebelumnya, tanggal 8 Juli 1888, Haji Muhidin menyampaikan kabar kepada Haji Mohamad Kanapiah mengenai rencana penyerangan, lalu mereka mengadakan rapat mendadak untuk membahas berbagai persiapan yang harus dilakukan.

Begitupun dengan suasana di desa Keganteran, Haji Akhmad memberikan arahan-arahan kepada semua anggota pasukan, yang keesokan harinya mereka berjalan beriringan menuju ke Karangantu terlebih dahulu. Langkah yang diambil Haji Akhmad sangat tepat sehingga pihak Belanda tidak merasa curiga apa-apa, karena rombongan itu dianggap sebagai petani biasa yang akan melakukan kegiatan mengolah lahan.

Sebuah gerakan berupa pengerahan masa pada masa itu tidak akan terlepas dari pantauan Belanda. Oleh karenanya, sekalipun jarak yang mereka tempuh akan menjadi lebih jauh pun terpaksa harus dilakukan yang tujuannya agar mereka dapat melewati pos-pos penjagaan dengan aman.

Dengan berpura-pura akan menggarap kebun milik Haji Akhmad, pasukan perang sabil itu pun dapat leluasa bergabung dengan kelompok lainnya yang sudah bersiaga menunggu aba-aba.

Sebagian dari kelompok pejuang itu berkumpul di mesjid agung Serang dan sekitarnya, dan sebagian lainnya tersebar di Kaujon dan Kaloran, mereka sedang menunggu instruksi dari panglima tertinggi.

Hari itu semua kelompok pasukan pejuang hanya berjaga-jaga serta memantau keadaan dipinggiran kota Serang saja, selain ada beberapa orang yang diam-diam memasuki pusat kota untuk mengamati keadaan. Pada hari itu alun-alun dijaga oleh tentara setelah mendengar berita bahwa Cilegon sudah diduduki oleh masa, bahkan sebagian pasukan tentara diberangkatkan ke Cilegon untuk membantu melakukan operasi penertiban.

Saya tidak dapat menggambarkan, andai saja waktu itu pasukan yang sedang mengepung ibu kota itu juga bergerak serentak menyerang Serang, tentu kisah sejarah ini akan lain ceritanya.
Berdasarkan itung-itungan, jika sebagian besar pasukan bersenjata yang ada di Serang diberangkatkan ke Cilegon, maka sudah dapat dipastikan hasilnya akan gemilang.
Namun sebagaimana yang telah dijelaskan pada episode sebelumnya, bahwa Banten memang tidak ditakdirkan untuk merdeka sendiri, sebab ada makna yang lebih besar dibalik gagalnya Banten merebut kemerdekaan pada waktu itu.

Dan sudah barang tentu, seandainya Haji Marjuki tidak meninggalkan Banten secara mendadak dan berangkat ke tanah suci, barangkali para pejuang itu tidak harus menunggu aba-aba dari Haji Wasid dan Kiyai Haji Tubagus Ismail.

Karena Haji Marjuki adalah salah seorang pemimpin utama dalam gerakan jihad fi sabilillah yang baru saja meletus.

Disamping itu, posisi Haji Marjuki juga merupakan wakil dari Haji Abdulkarim, sang penggagas perang sabil.
Namun ketika terjadi perbedaan pendapat dengan Haji Wasid, mengenai tanggl akan dimulainya penyerangan, kemudian Haji Marjuki berangkat ke tanah suci. Dan pada tanggal yang telah ditentukan itu, kemudian di Cilegon tersiar kabar, bahwa negara Islam akan didirikan dan seluruh rakyat Banten dibebaskan dari berbagai beban membayar pajak, yaitu pajak sewa tanah, pajak usaha dan pajak kepala.

Hanya sayangnya, berita gembira itu tidak berlangsung lama. Tak lama setelah dideklarasikan kemerdekaan Banten di Cilegon pada tanggal 9 Juli 1888 jam 9, kemudian pasukan Belanda dari Serang yang dibantu oleh batalion tentara dari Batavia datang untuk merebut kembali wilayah Cilegon yang sudah jatuh ke tangan para pejuang.

Siang itu juga, komandan pasukan Letnan van der Star bersama anak buahnya berangkat menuju ke Cilegon, dan pada saat yang sama sekelompok pasukan pejuang pun mulai bergerak menuju Serang.

Ditengah perjalanan, tepatnya di sekitar Pelabuhan Wulan disana dua pasukan berhadap-hadapan, mereka bertempur diakhir waktu dhuhur dan banyak para syuhada yang gugur, padahal kelompok pasukan pejuang yang sedang mengepung kota Serang justru dalam keadaan nganggur. Tidak ada yang salah memang dalam kejadian ini, hanya pada masa itu tidak ada alat komunikasi seperti sekarang, sehingga segala yang telah direncanakan tak dapat dirubah dengan spontan.
(Lembaga Busaya Cilegon)
Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: