Oleh : Bambang Irawan
Pada episode bagian kesatu telah diceritakan bahwa ketika jenazah-jenazah para pejuang yang telah menjalani hukuman gantung itu akan dimandikan lalu salah satu jenazah itu dikabarkan hilang dan yang ada hanyalah sebuah "gedebong" atau batang pisang.

Tentu saja pada saat itu mereka yang diberi tugas oleh Belanda untuk mengurus jenazah para syuhada itu tidak berani buka mulut, terlebih lagi mereka adalah orang-orang yang memang dicurigai terlibat dalam pembantaian para pejabat kolonial Belanda di Afdeling Anyer pada waktu itu, hanya karena kurangnya bukti-bukti dan tidak ada orang yang mau bersaksi pada saat proses persidangan maka mereka dilepaskan kembali.

Proses penangkapan dan pencarian terhadap para pejuang Banten pada saat itu memang tidak mudah bahkan sampai membuat mereka frustasi, padahal patroli besar-besaran tidak hanya dilakukan di daerah Cilegon saja namun keseluruh wilayah Serang dan sekitarnya. Sementara itu di Cilegon sendiri, penggeledahan ke desa-desa yang dicurigai sebagai basis para pejuang tidak membuahkan hasil.

Hal ini dikarenakan mereka kesulitan mendapatkan informasi karena adanya gerakan "tutup mulut" di masyarakat setempat, padahal pemerintah pusat (Batavia) telah menurunkan pasukan militernya dengan kekuatan maksimal untuk membantu pasukan Belanda yang ada di Serang.

Dari sekian banyak pentolan-pentolan yang dicari itu, hanya Haji Akhiya dan Haji Mahmud saja yang langsung ditangkap, selebihnya bergerilya dan bersembunyi di desa-desa yang kemudian desa-desa itu pun dibakar oleh tentara Belanda karena penduduk setempat tidak mau memberitahukan keberadaan orang-orang yang mereka cari. Begitupun yang terjadi di Beji, sebuah desa yang terletak disekitar gunung Santri tempat Haji Wasid menempa murid-muridnya untuk menjadi pejuang sejati.

Rumah-rumah disana habis dilalab si jago merah. Namun ajaibnya, ada salah satu rumah yang tidak tersentuh oleh jilatan api, sekalipun rumah itu lokasinya berada didekat serta ditengah rumah-rumah lainnya yang terbakar habis.

Rumah itu milik Haji Abdulkarim, salah seorang kaki tangan Haji Wasid yang paling setia.
Haji Mahmud ditangkap di Terate Udik ketika ia sedang menikmati secangkir kopi dan Haji Akhiya ditangkap di Jombang Wetan tanpa ada perlawanan. Haji Akhiya memang bukan baru sekali ini saja dicokok oleh Belanda dari rumahnya tetapi sudah beberapa kali namun lepas lagi pada saat akan dibawa ke penjara.

Padahal kedua tangannya diikat serta dikawal oleh serdadu Belanda dan diseret seekor kuda, namun sayangnya tidak ada data sejarah tentang informasi ini selain dari penangkapan yang dilakukan pasca peristiwa yang terjadi pada tanggal 9 Juli 1888 saja.

Memang sulit diterima oleh akal, ketika Haji Akhiya sedang dibawa menuju penjara, yang kebetulan jaraknya memang tidak jauh dari rumahnya, tiba-tiba tubuhnya berubah menjadi sebuah wayut (keranjang besar terbuat dari anyaman daun kelapa).

Akan tetapi nampaknya kisah mistis yang berdasarkan cerita turun temurun ini juga perlu dijadikan sebagai pelengkap informasi sejarah. Karena sekalipun orang tua dulu tidak pernah membaca disertasi Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, namun kejadian dalam dongeng-dongeng mitos tentang Haji Akhiya yang diceritakan secara turun temurun itu tidak bertolak belakang dengan data-data sejarah yang ada didalam buku Pemberontakan Petani Banten 1888. Padahal buku tersebut diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia baru diterbitkan pada tahun 1984 sedangkan dongeng tentang Haji Akhiya sudah ada jauh sebelum Prof. Sartono melakukan penelitian tentang sejarah ini.

Pada saat Haji Akhiya akan dieksekusi, permintaan terakhirnya hanyalah minta waktu untuk melakukan shalat dua rakaat, serta melarang anak dan istrinya untuk tidak datang baik pada saat pelaksanaan hukuman gantung maupun ketika jasadnya dikuburkan.

Pada saat itu pelaksanaan hukuman gantung dilakukan secara terbuka di tempat umum serta disaksikan banyak oleh banyak orang, yang tujuannya untuk membuat efek jera bagi siapa saja yang berani menentang kekuasaan penjajah Belanda akan tahu akibatnya seperti ini.

Namun rupanya apa yang diharapkan oleh pemerintah kolonial pada waktu itu tidak sesuai dengan kenyataan karena masyarakat lebih memilih tinggal di rumah dari pada mendatangi tanah lapang tempat pelaksanaan hukuman. Pada hari itu masyarakat berpuasa bersama-sama sebagai tanda penghormatan bagi para syuhada yang gugur di medan laga.

Boleh jadi hukuman gantung seperti itu bisa membuat orang menjadi takut dan berpikir untuk melakukan perlawanan terhadap kaum penjajah.
Tapi bagi rakyat Banten pada waktu itu, mati lebih berarti dari pada harus hidup dalam cengkeraman penjajah dan mengikuti kebijakan pemerintah yang tidak sejalan dengan akidah.

Oleh karenan sejarah perjuangan rakyat Banten 1888 ini harus diangkat dan diperkenalkan kembali agar Banten dapat kembali menemukan jati dirinya yang hakiki.

Dari sebelas orang yang menjalani hukuman mati dan dikuburkan ditempat itu, kini makam yang masih dapat dikenali hanya tinggal dua saja, yaitu makam Haji Akhiya dan makam Haji Mahmud dengan posisi saling bersebelahan. Hilangnya makam-makam tersebut disebabkan karena batu nisan mereka telah tercabut dari tempatnya terlebih lagi kondisinya sudah rata dengan tanah sehingga sulit dikenali lagi.

Dan satu-satunya batu nisan yang masih tetap berada ditempatnya adalah kuburannya Haji Akhiya. Entah karena faktor kebetulan, atau ada kekuatan lain yang membuat satu-satunya batu nisan para pejuang itu masih tersisa, sehingga dapat menjadi bukti bahwa peristiwa sejarah Geger Cilegon itu memang pernah terjadi dan bukan hanya sekedar cerita fiksi.

Sebuah peristiwa sejarah akan lebih dapat dipertanggungjawabkan validitasnya apabila memiliki bukti-bukti. Sedangkan untuk bukti-bukti lainnya berupa bangunan gedung peninggalan yang berkaitan dengan peristiwa itu seluruhnya sudah musnah atau hanya mampu bertahan sampai pada tahun 1980an. Lagi-lagi, entah karena faktor kebetulan atau memang ada kekuatan lain, ternyata di sebuah desa yang dikenal dengan nama Leuwipudak dan terletak di wilayah Waringin kurung, di salah satu rumah disana, didalam sebuah lemari tersimpan dengan rapi kitab-kitab peninggalan Haji Akhiya yang pada masa itu diajarkan kepada murid-muridnya di Jombang Wetan.

Subhanallah....! Jika bukan batu nisan Haji Akhiya dan kitab-kitab peninggalannya yang masih tersimpan dengan baik, peristiwa Geger Cilegon 1888 boleh jadi tidak mempunyai bukti sejarah apa-apa lagi.(Bersambung).

lembaga Budaya Cilegon
Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: