Oleh : Bambang Irawan.
Tanggal 9 Juli 1888 adalah merupakan hari yang naas bagi para pejabat pemerintah kolonial Belanda Belanda yang ada di Afdeling Anyer.

Hari itu tak ubahnya bagaikan hari pembalasan dimana rakyat menumpahkan segala kemarahannya sehingga tak seorang pun pejabat pemerintah dari tangkat tinggi sampai bawahannya yang dapat luput dari pembantaian. Bahkan anggota keluarga mereka pun turut menjadi korban, dan hanya beberapa saja yang diselamatkan karena mereka bersedia masuk Islam. Istri dari Asisten Residen, Elizabeth Ana van Zupten meregang nyawa di Saneja pada saat akan mencari sado untuk melarikan diri ke Serang, sementara suaminya, Gubbels juga tewas setelah sebutir peluru menembus dadanya.

Pada siang hari itu, asisten residen Gubbels tiba di Cilegon, namun rumahnya pada saat itu sedang diduduki oleh para pejuang, bahkan mereka juga membunuh kedua anak perempuannya yang bernama Elly dan Dora.

Karena tidak memungkinkan untuk memasuki rumahnya, kemudian Gubbels pun bersembunyi di gedung kepatihan, namun ia juga harus menemui ajalnya pada pukul setengah tiga sore, setelah para pejuang dibawah pimpinan Rapenye, jaro Ciore menyerbu kepatihan dan menemukan Gubbels sedang bersembunyi disana.

Dimana sebelumnya, para bawahannya telah ditangkap terlebih dahulu, mereka adalah Wadana, Jaksa, Ajun Kolektor dan Kepala Penjara yang kemudian semuanya diekaekusi di alun-alun karena dianggap tidak mau bekerja sama dengan pihak pejuang.
Nasib serupa dialami juga oleh seorang Kepala Penjualan Garam, Ulrich Bachet bersama kedua anaknya dan salah seorang kemenakannya, ketika mereka berusaha bersembunyi di rumah salah seorang penduduk kampung bernama Ramidin untuk beberapa saat sebelum akhirnya dapat diketemukan juga.

Walau Bachet sempat mengadakan perlawanan tapi akhirnya ia dapat dibunuh namun kedua anak perempuannya, Marry Bachet dan Anna Carter Visscher serta salah seorang kemenakannya bernama August Bachet dapat diselamatkan sebab mereka bersedia ngeucap dua kalimat syahadat.

Begitu juga yang terjadi dengan Kepala Pemboran, J. Grondhout dan istrinya, keduanya dibunuh pada saat akan melarikan diri ke arah Mancak. Ketika mengetahui sekelompok pejuang akan memasuki pusat kota, mereka mencoba bersembunyi di kepatihan, namun karena situasinya memang sudah tidak menguntungkan lagi maka pasangan suami istri itu pun akhirnya bergegas pergi mencari tempat perlindungan yang lebih aman.

Namun rupanya pada hari itu tidak ada tempat yang ramah bagi para pejabat pemerintah kemanapun mereka singgah. Dari Temuputih mereka terus melangkah tergesa-gesa meneruskan pelariannya ke arah Ciwaduk dan melintasi Ciwedus, namun setelah melewati gardu Kusambi Buyut mereka berhenti setelah mendengar Jaro Bagendung bernama Dengi memangginya agar kembali.

Bersamaan dengan itu para pejuang bermunculan, seketika itu posisi Grondhout berada dalam lingkaran, dikepung ditengah jalan. Dengan tidak disangka-sangka, salah seorang diantara mereka menyerang dengan parang dan istrinya berlari menerabas rumput ilalang, namun malang nyawa mereka pun melayang. Pengejaran yang dilakukan oleh Haji Masna dari Pecek, Sarip dari Kubangkepuh, Haji Hamim dari Temuputih, Haji Kamad dari Pecek dan dipimpin oleh lurah Kasar telah menamatkan riwayat hidup keluarga pejabat Belanda yang pada hari itu nampak tidak berdaya.

Mari kita lihat kembali, siapa yang dapat selamat dari pembantaian dan bagaimana kelanjutan kisahnya. Pada episode sebelumnya telah diceritakan, bahwa Juru Tulis Dumas adalah merupakan korban pertama dalam tragedi berdarah itu, sedangkan istrinya selamat sebab waktu bersembunyi di kepatihan istri Dumas sangat koperatip kepada para pejuang dan bersedia masuk Islam.

Kemudian istri Dumas dibawa ke rumah Asisten Residen untuk menghadap raja. Siapa yang menjadi raja pada hari yang kacau itu nampaknya agak simpang siur, Haji Wasid, Kiyai Haji Tubagus Ismail atau Agus Suradikaria semuanya disebut-sebut sebagai raja, dimana pada hari itu memang terjadi pengambilalihan kekuasaan dari pemeritah kolonial Belanda oleh para kiyai yang akan mendirikan sebuah kerajaan Islam di Banten.

Kiyai Haji Tubagus Ismail sebelumnya memang telah ditetapkan sebagai calon raja dalam sebuah musyawarah yang dihadiri oleh para kiaya terkemuka. Penetapan sebagai calon raja itu tentu berkaitan dengan statusnya yang lebih tinggi, sebagai seorang bangsawan yang juga sekaligus seorang kiyai bahkan oleh para pengikutnya sudah dianggap wali.

Sedangkan sosok Agus Suradikaria adalah mantan birokrat, dimana sebelumnya ia adalah asisten wedana Merak yang dipecat dan dijebloskan ke penjara. Pada saat itu gedung panjara merupakan salah satu tempat yang menjadi target penyerangan dengan tujuan melepaskan semua tahanan.

Dan salah satu diantara tahanan itu terdapat Agus Suradikaria, oleh karenanya ia bukan hanya sekedar bergabung dengan para pejuang, namun sebagai pelampiasan rasa dendamnnya, ia aktip memimpin gerakan perlawanan itu pada setiap kesempatan.

Rumor tentang siapa yang menjadi raja pada tanggal 9 Juli 1888 memang cukup menarik perhatian, apalagi Haji Wasid sendiri pernah menyampaikan kepada para pengikutnya, bahwa Haji Tubagus Ismail telah diproklamasikan sebagai raja dan semua orang harus patuh kepadanya.

Akan tetapi pada kenyataannya, beberapa pejabat pamongpraja yang ditangkap dan dijadikan tawanan pada waktu itu dibawa menghadap kepada Haji Wasid di Jombang Wetan, dan setiap orang harus memberi hormat kepada Haji Wasid yang telah dinobatkan sebagai raja pada pagi hari itu. Suatu fakta sejarah yang cukup menarik untuk ditelusuri serta dianalisa lebih jauh dan akan diketemukan jawabannya ketika waktunya telah tiba nanti.

Lembaga Budaya Cilegon.
Share To:

PortalMuslim.com

Media Referensi Muslim - Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Post A Comment: