Oleh: Bambang Irawan.

Kisah perjuangan rakyat Banten yang terjadi pada tanggal 9 Juli 1888 atau yang lebih dikenal dengan peristiwa Geger Cilegon itu adalah sebuah kekayaan sejarah yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Karena kurangnya perhatian dari berbagai kalangan maka peristiwa sejarah itu terkubur dan terlupakan begitu saja sehingga jarang orang mengetahui akan hal ini.

Padahal dibalik peristiwa bersejarah itu banyak menyimpan hikmah serta suri tauladan yang dapat dipetik dan direnungkan. Lebih jauh dari itu, sejarah adalah merupakan refleksi dari karakter sebuah bangsa, oleh karenanya jika suatu bangsa telah melupakan sejarahnya maka sama hal nya dengan kehilangan jati dirinya.
Oleh karena itu sangatlah penting untuk mengangkat dan memperkenalkan kembali kisah perjuangan rakyat Bantem ini, agar generasi yang hidup di era globalisasi seperti sekarang dapat mewarisi kembali nilai-nilai luhur yang dulu pernah dimilikinya.

Dimana para kiyai dan orang-orang yang berpredikat haji pada masa itu begitu dihormati dan dipatuhi segala nasehatnya. Tutur kata serta ucapannya dijadikan pedoman dan tuntunan dalam menjalani etika kehidupan, bahkan mereka tampil sebagai pelindung ketika pemerintah kolonial Belanda tidak berlaku adil. Demikian juga dengan para jawara, mereka jadi pembela bagi yang lemah, maka wajar jika di Banten para jawara sangat disegani dan dan dicintai oleh masyarakat.

Peristiwa Geger Cilegon adalah sebuah gerakan perlawanan rakyat Banten yang dipimpin oleh para kiyai dengan tujuan untuk mengusir penjajah. Adapun makna yang dapat dipetik dari peristiwa itu adalah nilai-nilai keikhlasan dan semangat juang yang pantang menyerah. Mereka tidak pernah berpikir untuk jabatan maupun posisi sekalipun nyawa adalah taruhannya. Semua diakukan atas dasar "Lillahita'ala" tanpa mengharap imbalan apa-apa.

Dan itu terbukti tatkala pusat pemerintahan Afdeling Anyer telah dapat direbutnya, diantara mereka tidak saling berebut kekuasaan. Mereka justru saling mempersilahkan siapa yang pantas untuk memimpin pemerintahan.

Sebagaimana telah diceritakan pada episode sebelumnya, pada hari Senin tanggal 9 Juli 1888 tersiar kabar yang simpang siur mengenai siapa gerangan yang menjadi raja pada hari itu. Menurut Haji Wasid bahwa kiyai Haji Tubagus Ismail telah diproklamasikan sebagai raja, akan tetapi Agus Suradikaria juga mengambil peran sebagai pemimpin tertinggi didalam memutuskan ketentuan hukuman bagi para tawanan yang ditangkap.

Ada yang langsung dihukum mati dan ada pula yang dimaafkan oleh Agus Suradikaria. Padahal dipagi hari itu juga Haji Wasid telah dinobatkan sebagai raja di Jombang Wetan dan para tawanan diharuskan bersimpuh memberi hormat kepada Haji Wasid yang kala itu didampingi oleh Haji Iskak.
Dari panggambaran singkat diatas, dapat disimpulkan bahwa mereka tidak berambisi untuk saling berebut jabatan apalagi pada saat itu hanya baru sampai pada tahap permulaan. Perjalanan untuk mencapai kemerdekaan dan mendirikan pemerintahan yang mandiri dan berdaulat di Banten memang masih panjang. Dan sekalipun, seandainya pada waktu itu perjuangan mereka tidak mengalami kegagalan maka sudah dapat dipastikan bahwa tidak bakal ada hambatan siapapun diantara mereka yang akan dinobatkan, sebab mereka memahami tata cara untuk mengangkat seorang pimpinan.

Andai saja perjuangan para kiyai itu berhasil, maka tanggal 9 Juli 1888 adalah merupakan hari kemerdekaan rakyat Banten. Akan tetapi manusia hanya boleh berencana, berupaya semampunya namun Tuhanlah sebagai penentunnya karena Dia lah yang maha tahu lagi maha berkehendak.

Gagalnya perjuangan para kiyai untuk mendirikan sebuah pemerintahan di Banten adalah merupakan sebuah titik awal keberhasilan berdirinya NKRI. Pada masa itu seluruh kesultanan dan kerajaan yang ada diwilayah nusantara ini berada didalam kekuasaan penjajahan Belanda yang kemudian dilanjutkan oleh Jepang.

Maka wajar ketika Jepang menyerah terhadap sekutu, dan Indonesia menyatakan kemerdekaannya kemudian seluruh kesultanan dan kerajaan yang ada menyatakan menyatakan bergabung dengan NKRI.

Seandainya pada waktu itu upaya para kiayi untuk mendirikan sebuah kerajaan di Banten tidak mengalami kegagalan, tentu saja ketika memasuki era penjajahan Jepang kondisi pemerintahan di Banten sudah banyak mengalami kemajuan.

Dan ketika Jepang menyerah pada sekutu, boleh jadi kerajaan Banten saat itu kondisinya sedang berjaya karena sudah lebih dari lima puluh tahun merdeka. Sedangkan sebuah negara yang berdaulat tidak mungkin akan turut bergabung dengan pemerintahan lain yang baru berdiri, bahkan sebaliknya seluruh kesultanan dan kerajaan yang pada waktu itu berada didalam cengkeraman penjajah pun dapat dipastikan bahwa mareka akan menyatakan merdeka masing-masing tatkala kesempatan itu tiba. Namun itu tidak terjadi sebab pada saat itu seluruh kesultanan dan kerajaan di nusantara ini kedaulatannya sudah dihilangkan oleh kekuasaan penjajahan.

Nampaknya ada hikmah yang lebih besar dari sekedar harus berdiri masing-masing. Tuhan yang mahakuasa berkehendak lain dimana takdir sudah menentukan bahwa NKRI harus berdiri ketimbang mereka harus merdeka sendiri-sendiri.

Menjaga dan mempertahankan kemerdekaan memang lebih sulit daripada merebutnya, karena musuh yang ada didepan mata sudah tak lagi kasat mata. Mereka bersembunyi dimana-mana dan mengatasnamakan apa saja, termasuk atas nama agama. Oleh karenanya bangsa ini harus bijak menyikapinya.

Keutuhan bangsa dan negara ini hanya dapat dipertahankan jika kita kembali mengedepankan azas musyawarah. Menghilangkan rasa benci dan amarah serta serta membuang jauh-jauh sikap sombong dan merasa paling benar.

Keikhlasan adalah kunci dari segala-galanya, seperti itulah yang telah dicontohkan oleh para kiyai terdahulu. Karena mereka menyadari bahwa semua akan ada balasannya dan hanya Allah saja yang boleh merasa paling benar.
Lembaga Budaya Cilegon (LBC).
Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: