seputarbanten.com-SERANG, Sejumlah warga di empat kecamatan di Kota Serang belum menikmati air bersih. Keempat kecamatan itu adalah Kasemen, Serang, Cipocok Jaya, dan Walantaka.

Berdasarkan penelitian Strategi Sanitasi Kota (SSK) tahun 2011 masih ada 130.000 kepala keluarga (KK) yang belum dapat menimkati air bersih.
Kepala Bidang Prasarana Wilayah Bappeda Kota Serang Ruli Riatno mengatakan bahwa banyak penyebab masih banyaknya keluarga di Kota Serang yang belum menikmati air bersih adalah karena beberapa hal.

Dari sisi geografis, empat kecamatan selain Taktakan dan Curug tidak memiliki air bersih melimpah karena jumlah pepohonan dan daerah tangkapan air yang sedikit. Khusus untuk Kecamatan Kasemen, karena berdekatan dengan laut, air di daerah ini banyak yang payau.

“Seperti Kelurahan Banten, Sawah Luhur, dan Kilasah sudah krisis air tanah, bahkan sudah mulai payau. Daerah Warung Jaud dan Masjid Priyai bahkan jadi zona rawan karena sumber air tanahnya berkurang dan sudah mulai payau juga,” kata Ruli,

Penyebab lain, kata Ruli, kualitas air yang ada sudah mulai tercemar air limbah rumah tangga, baik dari air sabun bekas mencuci dan mandi juga karena jarak septic tank yang terlalu dekat dengan sumber air. Idealnya jarak antara septic tank dan sumber air adalah 10 meter. Namun pada faktanya banyak rumah yang mengabaikan hal ini, termasuk rumah di kompleks.

“Septic tank juga harusnya menggunakan biodigester yang bisa mengurai kotoran sehingga ketika keluar airnya jadi aman. Kalau septic tank hanya dengan batu bata bisa tembus ke sumber air,” katanya.

Ruli mengungkapkan bahwa dalam jangka panjang dampak yang akan ditimbulkan oleh kondisi ini adalah menurunnya kualitas kesehatan masyarakat. Maka, banyak penyakit yang menyerang masyarakat, seperti diare, bahkan akan menurunkan kecerdasan otak. Dan pada akhirnya kondisi ini menyebabkan seseorang tidak produktif.

Untuk meminimalisasi hal ini Pemkot Serang membuat banyak program, salah satunya membangun sistem penyediaan air minum komunal, MCK komunal, memperluas air perpipaan yang sesuai dengan standar air bersih, dan lainnya. Pemkot Serang akan lebih memanfaatkan PDAB Tirta Madani milik Kota Serang dan PDAM milik Kabupaten Serang.

“Kalau Situ Sindangheula sudah jadi kebutuhan air untuk wilayah Serang dan Cilegon akan terpenuhi,” tuturnya.

Ruli mengungkapkan bahwa sebetulnya data SSK tahun 2011 sudah semestinya diperbarui, karena pembaruan survei dilakukan setiap 5 tahun sekali. Hanya saja, karena ada kendala pada survei penilaian risiko kesehatan lingkungan atau environmental health risk assessment (EHRA), maka tahun ini hasil survei EHRA belum muncul. Bila survei sudah dilakukan, akan diketahui apakah jumlah warga yang belum menikmati air bersih pada tahun ini berkurang atau bertambah dibandingkan dengan 5 tahun sebelumnya.

Kepala Bappeda Kota Serang Djoko Sutrisno mengatakan bahwa Pemkot Serang terus berusaha memberikan kesadaran perlunya mengolah air limbah rumah tangga sebelum membuangnya ke saluran air. Idealnya air limbah rumah tangga diolah terlebih dahulu agar kotorannya tidak terbuang ke saluran air. Bila air yang sudah diolah sudah tidak mengandung bahan berbahaya, barulah dapat dibuang ke saluran air.

“Kalau selama ini kan air bekas nyuci langsung dibuang ke selokan,” katanya. (CTB-)
Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: