Oleh: Bambang Irawan.
Meletusnya peristiwa perlawanan yang terjadi pada tanggal 9 Juli 1888 itu sempat mengejutkan berbagai pihak, termasuk media cetak pada masa itu. Berbagai spekulasi dan analisa pun muncul, dan untuk mengetahui apa latar belakang serta tujuan dari gerakan tersebut, maka diadakan penyelidikan bersaman dengan dilakukannya operasi penumpasan dan penangkapan orang-orang yang terlibat dalam peristiwa berdarah itu.
Untuk mengetahui penyebab terjadinya peristiwa itu, pemerintah pusat di Batavia langsung merespon dengan melakukan penyelidikan untuk mencari tahu mengapa peristiwa itu dapat terjadi.
Kemudian J.M van Vleuten, Direktur Departemen Dalam Negeri diangkat sebagai Komisaris Pemerintah untuk melakukan penyelidikan diwilayah-wilayah yang dianggap masyarakatnya mempunyai potensi yang berhubungan langsung dengan peristiwa itu.

Namun sekalipun penyelidikan dilakukan secara menyeluruh serta berdasarkan situasi umum yang ada di Banten, nampaknya latar belakang dan tujuan dari gerakan tersebut tidaklah diuraikan secara gamblang.

Hasil laporan van Vlueten itu lebih bersifat mengkoreksi kebijakan yang dianggap keliru serta hanya sekedar merupakan kritik internal terhadap kekeliruan yang telah dilakukan oleh para pejabat pemerintah kolonial.

Maka dapat dimaklumi, ketika orang lebih banyak mengenal bahwa latar belakang peristiwa berdarah, yang kemudian dikenal dengan Geger Cilegon 1888 itu lebih disebabkan oleh faktor ekonomi dan hanya merupakan gejolak sosial. Himpitan beban hidup rakyat yang semakin berat, setelah terjadi kemarau panjang dan meletusnya gunung Krakatau, kelaparan dimana-mana sementara pajak makin membebani kehidupan rakyat.

Dimana pada sisi lain, harus diakui pula bahwa sifat-sifat dan karakteristik dari masyarakat Banten yang cenderung memberontak, ditambah lagi dengan adanya sebuah kebijakan dari Asisten Residen Anyer, Johan Hendrik Hubert Gubbels yang sangat menyinggung perasaan keagamaan umat.

Dikeluarkannya larangan untuk melakukan panggilan adzan dan dirobohkannya menara mesjid, itulah yang dianggap melatar belakangi pecahnya perang besar ini.
Padahal selain dari semua yang dijelaskan diatas, juga terungkap dengan jelas bahwa motivasi dibalik meletusnya peristiwa itu tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun sebuah pemerintahan yang mandiri terlepas dari campur tangan pihak Belanda.

Gagasan serta rencana intuk mendirikan sebuah kerajaan di Banten pada masa itu terungkap dalam Berita Acara yang disampaikan oleh saksi-saksi dalam sidang pengadilan yang digelar setelah dilakukan operasi penangkapan para pejuang. Diantaranya kesaksian Haji Maki dari Kubangwuluh, ia mengaku telah diperintah oleh Haji Urip agar mengerahkan masa yang tujuannya untuk mendirikan sebuah kerajaan di Jawa.

Begitu juga dengan kesaksian yang diberikan oleh Dulmanan alias Armaja alias Nasidin dari Krapyak, dirinya mendengar Haji Wasid menyampaikan maklumatnya bahwa sebuah negara Islam telah didirikan dan Haji Ismail telah diproklamasikan sebagai raja, maka siapa saja yang tidak mau mengikutinya akan ditangkap. Bahkan pada saat peristiwa itu meletus, Haji Wasid menyampaikan kepada orang-orang dan menjelaskan bahwa sebuah negara Islam akan didirikan, serta akan dihapuskannya semua kewajiban rakyat berupa pungutan berbagai pajak.

Sebagai mana telah dijelaskan pada episode sebelumnya, bahwa perang sabil yang terjadi ini adalah merupakan gagasan dari Haji Abdul Karim, Lempuyang. Seorang ulama besar di Banten yang kemudian bermukim di Mekah, adalah orang yang sangat gigih menyuarakan dawah dari kampung ke kampung dengan tujuan untuk meningkatkan perbaikan kehidupan masyarakat Banten, baik itu dibidang keagamaan maupun dalam bidang sosial ekonomi.

Semangat jihad yang digelorakan oleh Haji Abdul Karim itu telah menjadi jalan pembuka bagi para murid-muridnya untuk melanjutkan gagasan besar itu. Oleh karenanya sangatlah wajar ketika mereka membangun hubungan komunikasi dengan para kiyai yang ada di Banten dapat berjalan mulus serta mampu menggalang masa dengan kekuatan luar biasa. Namun sayangnya mimpi besar rakyat Banten untuk memiliki kerajaannya sendiri akhirnya pupus dan hangus bersama semua rencana yang telah lama dipersiapkan matang.

Rasannya sangat sulit dibayangkan, bagaimana mereka dapat menyimpan rahasia sampai sekian lama tanpa menimbulkan kecurigaan sedikitpun, bahkan sampai peristiwa itu meletus pihak pemerintah Belanda tidak menaruh curiga apa-apa. Padahal pertemuan demi pertemuan terus dilangsungkan dari waktu ke waktu dan dari satu tempat ke tempat lainnya, yang seharusnya aktifitas semacam itu akan diketahui oleh mata-mata Belanda yang berkeliaran dimana-mana.

Terlebih lagi menjelang tiga bulan terakhir para kiyai itu semakin rutin mengadakan pertemuan-pertemuan, salah satunya di Kaloran. Dalam pertemuan itu direncanakan serta ditetapkan mengenai waktu dan strategi penyerangan diwilayah-wilayah yang telah ditentukan.

Haji Wasid, Haji Iskak dan HajibTubagus Ismail akan memimpin serangan terhadap Cilegon yang dibantu oleh para kiyai dari distrik Cilegon dan Kramatwatu. Dan pusat kota Serang sendiri akan diserang oleh pasukan pejuang dibawah pimpinan Haji Muhamad Asik dan para kiyai dari Terumbu yang dibantu oleh Haji Muhidin, Haji Abubakar dan para kiyai dari distrik Serang, Ciruas dan Ondar andir.

Sementara itu yang memimpin penyerangan di distrikTanara dan Cikande adalah Haji Marjuki dan Haji Asnawi. Adapun pasukan pejuang yang berada dibawah komando Haji Safudin dan Haji Kasiman akan menyerang Anyer. Namun nampaknya manusia hanya boleh punya rencana tapi Tuhanlah yang akan menentukan segala-galanya.
Pada tanggal 18 Juni 1888 para kiyai dari berbagai pelosok yang ada diwilayah Banten berkumpul di Beji dan kesepakatanpun terjadi.

Kemudian ditetapkan hari penyerangan akan dilaksanakan pada tanggal 12 Juli 1888, atau pada hari ketiga Zulkaidah, dan keputusan itu akan dievaluasi serta dikukuhkan kembali oleh para kiyai pada hari keduabelas di bulan Syawal, atau bertepatan tanggal 22Juni 1888. Dengan adanya keputusan itu hanya Haji Marjuki yang tidak setuju, maka ia pun segera menentukan sikap dengan mengambil pilihan berangkat ke tanah suci.

Dan jika peperangan itu berhasil dilakukan maka Haji Marjuki akan kembali dengan disertai oleh Syeik Abdul Karim dan Syeik Nawawi Al Bantani. (Bersambung).
Lembaga Budaya Cilegon.
Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: