Oleh : Bambang Irawan.
Pada episode bagian kesatu dijelaskan bahwa penyerangan akan dimulai pada hari ketiga di bulan Zulkaulidah, atau bertepatan dengan tanggal 12 Juli 1888.

Adapun ditentukannya waktu tersebut diambil dalam sebuah kesepakatan bersama yang diadakan dirumah Haji Wasid, di Beji satu bulan sebelumnya. Namun keputusan itu ditentang oleh Haji Marjuki, ia tidak setuju karena dianggap terlalu cepat dan tergesa-gesa sehingga ia terpaksa tidak dapat turut berjuang bersama-sama.

Kemudian untuk memastikan, maka para kiyai itu akan diundang rapat kembali untuk mematangkan rencana serta mengatur taktik dan strategi penyerangan.

Namun pertemuan itu tidak dihadiri oleh Haji Marjuki karena beberapa hari setelah pertemuan sebelumnya, ia memutuskan untuk berangkat kembali ke tanah suci dengan membawa serta anak dan istri.

Kepergian Haji Marjuki yang tiba-tiba itu ternyata tidak membatalkan rencana semula, mereka tetap pada keputusannya untuk melakukan serangan apa pun resiko yang akan dihadapinya. Dan yang menarik untuk dicermati adalah, bahwa akhirnya penyerangan itu justru dilaksanakan empat hari lebih cepat dari dari waktu yang telah ditentukan sebelumnya.

Sebenarnya dalam peristiwa perjuangan rakyat Banten yang di pimpin oleh para kiyai ini banyak hal yang cukup menarik untuk dianalisa. Salah satunya adalah mengenai tempat-tempat pertemuan serta waktu yang direncanakan untuk dimulainya serangan. Tiga bulan menjelang peristiwa itu meletus, para kiyai berkumpul di Beji, dimana pertemuan itu merupakan musyawarah terbesar dari yang pernah dilaksanakan sebelumnya.

Bahkan agendanya pun sudah mulai jelas dan terlihat tegas bahwa mereka telah bertekad untuk melaksanakan perintah jihad.

Pada tanggal 22 April 1888, para kiyai dari berbagai wilayah yang ada di Banten, mereka bersama-sama dengan para murid-muridnya berkumpul di halaman masjid Beji, sebanyak tiga ratus orang mengadakan ikrar dan janji suci.

Mereka siap melaksanakan perang sabil, bersumpah untuk setia pada perjuangan serta berjanji untuk merahasiakannya sampai saatnya tiba nanti. Pada waktu itu mereka dijamu oleh Haji Wasid dalam sebuah acara syukuran yang dilaksanakan secara besar-besaran, sebanyak sembilan ekor kambing dipersiapkan untuk dijadikan hidangan.

Kemudian hasil pertemuan itu tindaklanjuti dengan mengadakan musyawarah yang dilaksanakan di Kaloran, di rumah Haji Mohamad Singadeli, disana diputuskan bahwa penyerangan akan dilaksanakan pada bulan September 1888.

Namun pada sebuah pertemuan yang dilaksanakan pada tanggal 15 Juni 1888, di Beji, di rumah Haji Wasid, penetapan waktu penyerangan itu pun dimajukan, yaitu pada tanggal 12 Juli, namun penetapan itu ditentang keras oleh Haji Marjuki.

Maka wajar, keberangkatan Haji Marjuki ke Mekah pada saat waktu penyerangan sudah ditetapkan itu sempat membuat semangat para kiyai yang berasal dari wilayah Banten bagian timur sedikit mengendur.

Untuk membangkitkan kembali semangat perjuangan dan kesepakatan waktu penyerangan, maka pada tanggal 22 Juni 1888 Haji Wasid mengundang para kiyai untuk berkumpul kembali. Sekalipun dalam rapat saat itu masih sarat dengan silang pendapat yang disebabkan karena sebagian dari para kiyai itu tidak sepakat, walau pun pada akhirnya musyawarah itu dapat menghasilkan suara bulat.

Pada mulanya rencana pelaksanaan penyerangan pada tanggal 12 Juli itu hanya disetujui oleh kiyai-kiyai yang berasal dari wilayah Afdeling Anyer saja, yaitu para kiyai dari Waringinkurung, Kramatwatu, Wanasaba, Krapyak, Bojonegara, Mancak, Anyer serta kiyai-kiyai yang berdomisili di distrik Cilegon. Sedangkan sebagian besar para kiyai yang berasal dari wilayah Afdeling Serang banyak yang menentang.

Hal ini dapat maklumi karena Haji Marjuki adalah merupakan utusan dari Syeikh Abdul Karim. Dimana Syeikh Abdul Karim adalah salah seorang guru tarekat Kadiriyah yang mempunyai banyak pengikut, dan bukan hanya di wilayah Banten saja tapi sampai ke luar pulau Jawa.

Namun di Banten sendiri pengikutnya sebagian besar berada di bagian timur, maka wajar jika para kiyai yang berasal dari wilayah timur Banten cenderung mengikuti sikap yang diambil oleh Haji Marjuki.

Dalam kesempatan itu Haji Wasid dan Haji Iskak menegaskan bahwa pelaksanaan penyerangan harus tetap dilaksanakan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, dan jika penyerangan ditunda-tunda akibatnya hanya akan merugikan gerakan perjuangan yang telah sekian lama dirintis bersama. Sikap ngotot Haji Wasid untuk tetap melaksanakan penyerangan pada tanggal 12 Juli itu diperkirakan karena berkaitan dengan persoalan pribadinya yang dalam waktu dekat akan dipanggil ke pengadilan.

Namun rupanya dugaan itu masih perlu dianalisa lebih dalam lagi, apalagi faktanya penyerangan itu ternyata meletus lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan, yaitu 9 Juli 1888. Dan penyerangan yang dilaksanakan diluar waktu yang telah ditentukan oleh Haji Wasid itu ternyata ditetapkannya dalam sebuah pertemuan yang diadakan di rumah Haji Akhiya di Jombang Wetan, sedangkan Haji Wasid sendiri tidak ikut dalam pertemuan itu.

Musyawarah penting yang sangat menentukan jalannya peristiwa bersejarah itu dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 7 Juli 1888, di rumah Haji Akhiya dan hanya dihadiri oleh 9 orang saja, termasuk tuan rumahnya sendiri.

Karena dalam pertemuan itu menetapkan waktu penyerangan, artinya musyawarah pada saat itu merupakan sebuah rapat final. Dan jika itu merupakan rapat penentuan akhir, maka dapat dipastikan bahwa mereka juga pernah mengadakan rapat-rapat sebelumnya.

Akan tetapi sebagaimana diketahui, bahwa pertemuan-pertemuan mengenai gerakan perjuangan rakyat Banten yang dipimpin oleh para kiyai ini belum pernah ada yang dilaksanakan di Jombang Wetan sebelumnya, sementara Haji Akhiya juga tidak pernah ikut dalam rangkaian pertemuan tersebut.

Begitupun dengan yang lainnya, atau mereka yang hadir dalam pertemuan di Jombang Wetan itu bukan tokoh-tokoh utama yang sering mengadakan pertemuan terdahulu, kecuali Haji Iskak. Disamping itu memang rumah Haji Iskak juga pernah dijadikan tempat pertemuan para kiyai untuk membahas peristiwa yang dikenal dengan Geger Cilegon itu.

Dengan adanya fakta bahwa Haji Wasid tidak ikut hadir dalam pertemuan di rumah Haji Akhiya itu, maka dugaan mengenai peranan Haji Wasid untuk mempercepat pelaksanaan penyerangan karena dirinya ketakutan akan dipanggil ke pengadilan itu harus dianalisa kembali. (Bersambung).

Lembaga Budaya Cilegon.
Share To:

PortalMuslim.com

Media Referensi Muslim - Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Post A Comment: