Oleh :Bambang Irawan.

Sebagaimana pada episode-episode sebelumnya telah diterangkan bahwa perjuangan rakyat Banten yang dipimpin oleh para kiyai untuk mengusir penjajahan dan merebut kembali kemerdekaannya itu mengalami kegagalan. Dan diceritakan pula bahwa kisah sejarah ini merupakan satu-satunya perististiwa peperangan terdahsyat yang pernah terjadi selama masa penjajahan Belanda.

Dimana pada peperangan itu banyak menelan korban dari kedua belah pihak, bahkan seluruh pejabat pemerintahan kolonial Belanda yang ada di Afdeling Anyer dibantai habis. Namun sayangnya sejarah perjuangan yang penuh dengan suritauladan ini telah terkubur dan terlupakan sehingga hampir tidak ada yang mengetahuinya.

Dari pihak pejuang pun banyak yang gugur dan banyak pula yang ditangkap, kemudian 11 orang dijatuhi hukuman gantung dan sebagian lainnya dikenakan hukuman kerja paksa selama 15 sampai 20 tahun, sedangkan sebagian lainnya dibuang atau diasingkan. Sekalipun pada kenyataannya mereka harus menerima kekalahan akan tetapi tidaklah perjuangan mereka itu menjadi sia-sia. Tujuan diasingkannya para pejuang ke luar wilayah Banten dimaksudkan agar mereka tidak lagi melakukan perlawanan.

Akan tetapi rupanya semangat perjuangan mereka tidak menjadi surut. Karena sekalipun para pejuang itu berada dipengasingan, mereka tetap menggelorakan semangat anti penjajahan.
Sebanyak 99 orang dibuang ke berbagai kota yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia, yaitu Tondano, Gorontalo, Padang, Kupang, Selayar, Kema, Ternate, Maros, Amboina, Muntok, Payakumbuh, Banda, Manado, Fort de Cock, Bengkulen, Pariaman dan Saparua.

Mereka terdiri dari berbagai profesi, yaitu petani, ustadz, pedagang, nelayan, jaro, kusir, penghulu, khatib bahkan jawara. Dipengasingannya mereka tidak menjadi terasing malah keberadaabnya justru dihormati.karena sebagian besar diantara mereka juga mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat setempat.

Bukan hanya para kiayai saja yang kemudian mengajarkan ilmunya setelah mereka hidup dipengasingan, bahkan yang berprofesi sebagai petani pun banyak yang menjadi guru ngaji dan mempunyai banyak murid. Salah satu diantaranya adalah Haji Munip dari Cibeber, salah seorang petani yang ditangkap dan dibuang ke pulau Banda bersama 12 orang lainnya. Sampai akhir hayatnya Haji Munip mengabdikan diri ditempat pengasingannya bahkan dirinya dianggap cukup berjasa dalam gerakan perjuangan melawan penjajahan.

Dan itu terbukti dari namanya yang juga dituliskan dalam prasasti pada sebuah tugu peringatan yang dinamakan Parigi Rante. Sebuah penghargaan luar biasa yang diberikan oleh masyarakat Maluku terhadap orang-orang yang dibuang oleh Belanda.
Peran kiyai cukup diperhitungkan keberadaannya dan dianggap lebih tinggi statusnya dari seorang haji, oleh karenanya pemerintah kolonial Belanda pun mengakui akan status tersebut. Pada masa itu tidak semua kiyai diakui statusnya oleh pemerintah kolonial, dan salah satu diantaranya adalah Haji Makid. Ia adalah salah seorang kiyai yang juga ditangkap dan dibuang ke pulau Banda.

Ketika ditempat asalnya, Jombang Wetan, Haji Makid mempunyai pondok pesantren, namun status sebagai seorang kiyai belum diakui oleh pemerintah kolonial Belanda. Mungkin ini disebabkan karena hubungan antara Haji Makid dengan pemerintah Afdeling kurang dekat, sekalipun tempat tinggalnya sangat berdekatan dengan komplek Ambtenar dan pusat pemerintahan.

Bahkan kebun milik Haji Makid berbatasan dengan kebun milik Asisten Residen Gubbels. Kendatipun begitu, tidak semua orang yang bertetangga itu mempunyai hubungan yang harmonis antara satu dengan yang lainnya, tentu saja berbagai macam penyebabnya.

Sebagai seorang kiyai, rumahnya selalu ramai dikunjungi oleh orang-orang yang sedang melakukan kegiatan pengajian, dzikir dan selawatan yang biasa diakukan dengan suara keras, bahkan sampai larut malam. Secara kebetulan istri Asisten Residen, Anna van Zuptent, menderita sakit kepala kronis, sehingga ia tidak boleh mendengar suara yang berisik.

Gubbels pun pernah meminta kepada Haji Makid untuk tidak melakukan ibadah dengan suara keras karena dianggap akan mengganggu kondisi kesehatan istrinya.

Namun rupanya teguran itu tidak didengar, dan karena Gubbels sebagai seorang penguasa maka ia pun memerintahkan Patih untuk menerbitkan surat edaran yang berisi larangan melakukan kegiatan keagamaan dengan suara keras, termasuk panggilan suara adzan pada setiap waktu sholat.

Masyarakat juga dilarang mengadakan acara hajatan secara besar-besaran dengan melakukan arak-arakan, gamelan dan pertunjukan kendang penca. Tentu saja surat edaran itu telah telah membuat Haji Makid berang apalagi sebelumnya Patih pernah mengeluarkan kata-kata yang menyinggung harga dirinya.

Karena istri Asisten Residen merasa terganggu setiap mendengar suara adzan, kemudian Gubbels menyuruh Patih untuk menyampaikan pesan kepada Haji Makid agar berhenti mengalunkan suara adzan dari atas menara, dan dengan kata-kata yang menyinggung, bahwa tidaklah perlu bersembahyang dengan suara keras, karena bukan hanya akan mengganggu tetangga sekelilingnya saja, akan tetapi karena Tuhan juga tidak tuli.

Kebijakan yang diambil oleh Asisten Residen itu telah menerabas batas-batas sensitifitas keagamaan yang paling riskan, yang dapat menimbulkan gejolak dan perlawanan. Bersamaan dengan itu semangat perlawanan rakyat terhadap penjajahan Belanda sedang membara.

Sementara itu Haji Wasid dan para kiyai se Banten telah sepakat untuk mengadakan penyerangan pada tanggal 12 Juli 1888 ke pusat-pusat pemerintahan kolonial Belanda yang ada di seluruh wilayah Banten.

Situasi seperti ini tidak disia-siakan oleh Haji Makid untuk membalas rasa ketersinggungan dirinya terhadap Asisten Residen. Maka ia pun memprofokasi masyarakat agar segera berontak dan mengadakan perlawanan terhadap Gubbels. Emosi masyarakat sangat mudah dinyalakan apabila menyangkut keyakinan agamanya yang dilecehkan.

Kemudian pada tanggal 7 Juli 1888, Haji Akhiya salah seorang tetangga dekat sekaligus kerabatnya itu mengadakan rapat mendadak bersama beberapa sahabatnya di rumahnya, di Jombang Wetan.

Dan pada tanggal 9 Juli 1888 meletuslah peristiwa Geger Cilegon. Haji Makid pun ditangkap dan diadili dalam sebuah persidangan, dirinya dituduh sebagai profokator keributan. Kemudian ia dibuang ke pulau Banda dan tak pernah kembali sampai akhir hayatnya.

Namun untuk tidak melupakan kampung halamannya, maka Haji Makid pun menyuruh salah seorang cucunya untuk menuntut ilmu di Jombang Wetan, yang kemudian beranak pinak sampai sekarang. Luar biasa.

Lembaga Budaya Cilegon.
Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: