Oleh : Bambang Irawan.

Pade episode sebelumnya telah diceritakan secara lengkap dan gamblang tentang sebuah kejadian yang tiada bandingnya sepanjang sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam menghadapi penjajahan Belanda.

Kesimpulan itu diambil setelah melihat bahwa gerakan perlawanan masyarakat Banten yang terjadi pada tanggal 9 Juli 1888 itu memiliki skup yang sangat luas karena dikoordinir secara bersama-sama oleh para kiyai yang ada di seluruh wilayah Banten bahkan kordinasinya sampe ke luar Banten, misalnya Bogor dan Jakarta yang pada masa itu dinamakan Batavia.

Terlebih lagi jika dilihat dari segi pengorganisasiannya, perencanaannya dan konsep sasaran yang ingin dicapai serta visi misi yang dimilikinya. Sungguh sebuah fenomena yang belum pernah ada sepanjang bangsa Eropa itu berkuasa di bumi nusantara, dimana belum pernah menghadapi kelihaian kaum pribumi dalam mengelabui para pejabatnya sehingga menjadi lengah dan lalai yang kemudian habis dibantai. Bahkan rasanya hampir tidak dapat diterima oleh akal, jika pada masa itu di Banten sudah ada para intelektual serta cendikiawan yang mempunyai visi kebangsaan dan mampu berfikir jauh kedepan melintasi jaman kemerdekaan.

Maka tidaklah heran ketika gerakan itu dapat berhasil dengan gemilang, sekalipun memang pada akhirnya mereka harus menerima kekalahan.
Namun sekalipun gerakan itu dapat ditumpas dan dipadamkan oleh pihak lawan, tetapi dampak yang ditimbulkan sangat luas dan mengejutkan sehingga membuat pihak Belanda berpikir panjang apabila akan menerapkan sebuah kebijakan yang berkaitan dengan rakyat jajahan. Gerakan perjuangan yang dipimpin oleh para kiyai itu kualitasnya setara dengan gerakan perjuangan yang dilakukan oleh kalangan intelektual dan para elit yang hidup di era menjelang kemerdekaan. Dimana pada masa itu banyak orang-orang yang berpendidikan dan lulusan dari perguruan tinggi, baik di luar maupun di dalam negeri, yang kemudian mengadakan gerakan revolusioner, diantaranya Soekarno dan Hatta.

Sangat wajar jika tokoh-tokoh kemerdekaan itu mampu mengkondisikan gerakan perjuangan dan bisa mempertahankannya ketika terjadi agresi Belanda yang bertujuan untuk merebut kembali bekas tanah jajahannya.

Karena kemampuan mereka berdiplomasi maupun keakhlian memegang senjata pun sudah lebih baik keadaannya karena mereka banyak belajar dan bergaul dengan tokoh-tokoh politik kelas dunia pada masa itu. Disamping itu pasukan perangnya sudah mulai terlatih karena sejak Jepang masuk banyak orang-orang pribumi yang ikut bergabung dengan pasukan Jepang.

Akan tetapi kita sangat sulit membayangkan, bahwa di sebuah jaman yang belum ada bangku kuliah dan sekolahan, namun pada masa itu para kiyai di Banten sudah berfikir revolusioner. Bahkan garakan perjuangan mereka dapat dibilang sebagai gerakan politik pertama yang ada di Indonesia.

Mereka bukan hanya sekedar berperang melawan penjajah seperti para pejuang-pejuang sebelumnya, tetapi mereka mempunyai konsep untuk mendirikan sebuah negara yang berdaulat dengan sebuah pemerintahan yang mempunyai program-program yang pro rakyat.

Luar biasa.....!
Tapi sayangnya, catatan sejarah besar ini tidak pernah terungkap bahkan terlupakan begitu saja sehingga jarang orang yang mengetahuinya. Walaupun memang harus diakui bahwa pada akhirnya perjuangan mereka pun kandas, dan sebagian dari mereka gugur sebagai syuhada sementara yang masih hidup diajukan kedepan sidang pengadilan.

Kekalahan yang dialami oleh para kiyai dalam peristiwa perjuangan itu cukup dimaklumi, karena elemen pendukung dari para pejuang itu hanya dari masyarakat biasa yang tidak terlatih seperti pasukan tentara Belanda. Dengan demikian ibu kota Afdeling Anyer yang sudah direbut dan diduduki akhirnya harus mereka tinggalkan lagi karena kekuatan pertahanan yang dimiliki tidak mampu membendung masuknya bala bantuan serdadu Belanda yang datang dari Serang dan dari Batavia.

Sebagaimana telah diceritakan pada episode sebelumnya, bahwa peristiwa Geger Cilegon yang terjadi pada tanggal 9 Juli 1888 itu bukan hanya sekedar kejadian yang berlangsung di Cilegon semata dan hanya dilakukan oleh orang-orang Cilegon saja.

Penjelasan tentang luasnya skup dan kapasitas gerakan tentang peristiwa ini sudah dijelaskan pada episode sebelumnya, nanun karena peristiwa sejarah ini tidak ada yang mengangkat sehingga menjadi asing dan terlupakan seperti sekarang ini. Terlupakannya sejarah besar yang dimiliki oleh bangsa Indonesia ini sebenarnya merupakan sebuah kelalaian besar yang tidak bisa ditolelir. Namun karena banyaknya faktor penyebab sehingga masalah kelalaian ini sulit ditujukan kepada siapa yang dipersalahkan, apakah kepada pemerintah kota Cilegon, pemerintah propinsi Banten atau kah pemerintah pusat yang memang tidak mempunyai kepedulian akan kekayaan sejarah yang dimilikinya.

Selama dalam proses penelusuran kisah sejarah ini, informasi yang didapatkan bahwa sulitnya mengangkat dan memperkenalkan kisah sejarah Geger Cilegon ini disebabkan karena kurangnya atau minimnya data sejarah yang ada. Dan hal itulah yang dapat dimaklumi mengapa sejarah perjuangan ini jadi terlupakan seperti ini, bahkan sudah dapat dipastikan bahwa tidak lama lagi kisah bernilai sejarah ini akan terkubur bersama jasad-jasad para syuhada yang sekarang nama mereka pun sudah terlupakan sama sekali.

Akan tapi ada yang sangat mengejutkan dibalik semua fakta yang ada, justru ketika saya mengadakan penelusuran dilapangan dan mengumpulkan data-data serta informasi sejarah yang berkaitan dengan peristiwa ini, sungguh sesuatu yang sangat diluar dugaan dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Mengapa.....???.

Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelusuran dan penelitian yang saya lakukan ternyata, bahwa peristiwa Geger Cilegon 1888 adalah satu-satunya sejarah perjuangan yang memiliki data-data serta informasi sejarah yang paling lengkap, akurat dan valid serta dapat dipertanggungjawabkan secara akademis, jika dibandingkan dengan sejarah-sejarah perjuangan lainnya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Dan data-data sejarah itu sudah saya tulis dan disimpan dalam sebuah komputer yang siap untuk didedikasikan kepada siapa saja yang berniat akan mengangkat dan memperkenalkan kembali sejarah besar ini. Ironis memang....! Mengapa alasan minimnya data sejarah dijadikan sebagai alat untuk menggali lubang dan menguburkan serta melupakan sebuah peristiwa yang merupakan sebuah refleksi dari jati diri masyarakat Banten ini, mengapa bisa terjadi seperti ini.

Adakah ini merupakan faktor kesengajaan untuk melupakannya dengan cara membangun kesan bahwa peristiwa ini minim akan data sejarah?
Dan bagaimana setelah data-data sejarah ini terungkap? Apakah kita masih saja tidak maun perduli, kita tunggu saja saatnya nanti.....(apa yang bakal terjadi).

Lembaga Budaya Cilegon.
Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: