seputarbanten.com-PILGUB Tokoh masyarakat Banten Embay Mulya Syarief menyatakan jika silat merupakan jati diri warga Banten. Hal tersebut disampaikan saat acara bedah buku penelitian berjudul Keyakinan dan Kekuatan Seni Bela Diri Silat Banten karya Gabriel Facal di Auditorium Surosowan, Rumah Dunia, Ciloang, Kota Serang, Minggu (4/12).

Bagi Embay, pencak silat berbeda dengan bela diri lainnya. Perbedaan tersebut karena belajar pencak silat biasanya dibarengi dengan belajar agama serta diajarkan akhlak yang baik.

"Kalau ada yang menanyakan ke saya selaku orang Banten apakah jawara atau ulama, insya Allah saya dua-duanya. Waktu saya masih muda, saya biasa berlatih silat saat setelah salat Isya. Sebelum diajarkan jurus-jurus silat, saya dimatangkan dulu akhlak dan perilakunya, sehingga saat sudah menguasai ilmu bela diri tidak boleh sombong. Sombong itu perilaku iblis, jangan ngaku orang Banten kalau tidak salat dan jago silat," tegasnya.

Ia menambahkan, akhlaklah yang membawanya mencapai kesuksesan. Ketika bermitra dengan rekan bisnisnya, ia mengaku tidak pernah melakukan kecurangan.

"Mainan air keras mainan saya waktu SMP. Bela diri silat tidak untuk digunakan semena-mena, silat digunakan hanya untuk keadaan terdesak. Jadi kita harus jaga kerifan lokal ini," ucapnya.

Sementara itu, pengarang buku, Gabriel Facal mengatakan, seni bela diri silat berbeda dengan seni bela diri lain karena mempunyai ciri khas yang diiringi dengan tarian dan musik. Berdasarkan sejarah, menurut Gabriel, silat pada masanya digunakan untuk melawan penjajahan Belanda. Sebagai antropolog, Gabriel melihat silat memiliki beberapa dimensi seni. Ciri khas tersebut karena silat memiliki dimensi tarian (igelan), dimensi musik (kendang pencak), kreativitas dalam merespon ruang, gerakan teatrikal, dan digunakan dalam beberapa acara adat di masyarakat Indonesia.

"Saya tidak bisa memastikan kapan tepatnya pencak silat mulai hadir pada masa Kesultanan, karena bentuk silat dan ilmu kanuragan sudah ada dan dipergunakan saat melakukan pemberontakan melawan Belanda," katanya.

Puncaknya, lanjut Gabriel, pasukan Terumbu terlibat aktif dalam pemberontakan yang menggunakan silat untuk dipakai melawan Belanda pada Geger Cilegon 1888. Hasil penelitiannya, kata Gabriel, dirinya bisa membedaan lima aliran pencak silat, di antaranya Tjimande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir (TTKDH) di Serang, Terumbu, Bandrong di Bojonegara, Haji Salam di Pekarungan, dan Ulin Makao di Pandeglang.

Dari lima aliran pencak silat itu, Gabriel menemukan ciri khas pada aliran TTKDH yang mempunyai ciri khas dengan TTKDH yang berada di Bogor.

“Ada subritual yang berbeda dengan TTKDH di Bogor. Tahapannya seperti mengeraskan tangan dan teknik bela diri lainnya,” ujarnya.

Kordinator Program Hibah Silat Oong Maryono Pencak Silat Award (OMPSA) Beni Jusuf memaparkan, jika acara bedah buku tersebut sebenarnya merupakan tamparan dan teguran bagi semuanya. Karena, menurutnya, justru yang aktif mempromosikan silat adalah orang luar negeri.

Ditengah derasnya arus teknologi informasi yang menghinggapi anak muda saat ini, tidak banyak anak muda yang menekuni seni bela diri pencak silat.

"Padahal arus teknologi informasi yang berkembang pesat saat ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dunia persilatan. Sekarang kan kebalikannya, orang luar yang meneliti bela diri silat," ungkapnya.

Selain Gabriel Facal, yang berwarganegarakan perancis, ada juga orang luar negeri seperti Edward Lebe yang juga meneliti silat Minang.

"Bahkan, di luar negeri sudah banyak organisasi-organisasi pencak silat, tapi saat ini pencak silat sedang proses untuk pengakuan Unesco. Kalau lancar, 2019 insya Allah akan diakui integibel aset, seperti aset nonbenda yang merupakan tradisi asli Indonesia seperti batik. Jadi nantinya tidak ada negara lain akan mengklaim kalau sudah ditetapkan Unesco," pungkasnya.(*)
Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: