Oleh : Bambang Irawan.


Sebenarnya Nyi Masitoh bukanlah salah seorang perempuan yang terlibat langsung dalam peristiwa tanggal 9 Juli 1888, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Geger Cilegon.

Dan satu-satunya perempuan yang turut aktip dalam perjuangan kiyai se Banten ketika melawan penjajahan Belanda pada masa itu hanya Nyi Kamsidah, istri Haji Iskak dari Saneja.

Sedangkan Nyi Masitoh hanyalah seorang ibu rumah tangga yang pada saat itu juga usianya masih sangat muda. Namun sekalipun begitu, nampaknya kisah tentang Nyi Masitoh ini cukup penting untuk diceritakan karena dapat merefleksikan sebuah situasi dan keadaan pada masa peristiwa itu terjadi.

Namun sebelum menceritakan tentang sosok Nyi Masitoh, ada baiknya terlebih dahulu kita mengenang kembali sepak terjang Nyi Kamsidah, bagaimana peranannya dan bagaimana akhir kisahnya ketika perjuangan para kiyai itu akhirnya dapat ditumpas oleh pemerintah kolonial Belanda.

Dua hari menjelang peristiwa itu meletus, beberapa kiyai mengadakan rapat di Jombang Wetan, diantaranya adalah Haji Iskak salah seorang kiyai yang memang aktip mengikuti pertemuan-pertemuan dengan para kiyai lainnya. Dan pada saat Haji Iskak sedang menghadiri pertemuan di Jombang Wetan, pada malam itu di rumahnya, di Saneja, beberapa orang kiyai yang berasal dari berbagai wilayah juga sedang berkumpul dalam sebuah pertemuan yang memang sudah sering mereka laksanakan disana.

Ada pun mereka yang sedang berada di rumah Haji Iskak pada saat itu adalah merupakan tokoh-tokoh penggerak yang sudah beberapa bulan terakhir ini rutin mengadakan pertemuan, bahkan termasuk pemimpin tertingginya, yaitu Haji Wasid dan Kiayi Haji Tubagus Ismail pun ada di kediaman Haji Iskak.

Karena malam itu Haji Iskak sedang mengikuti rapat di rumah Haji Akhiya, kemudian Nyi Kamsidah pun berangkat ke Jombang Wetan untuk memberi tahu bahwa para kiyai yang sedang berada di rumahnya ingin ketemu. Menjelang tengah malam, Haji Iskak beserta yang lainnya berangkat ke Saneja untuk mengadakan rapat lanjutan di rumahnya, dan dari sanalah genderang perang pun dibunyikan.

Dan pada pagi berikutnya, beberapa kelompok pasukan pejuang dari berbagai penjuru berdatangan ke pusat pemerintahan Afdeling Anyar. Dari arah selatan sekelompok pasukan dibawah pimpinan Kiyai Haji Tubagus Usmail dan Haji Usman dengan mengenakan kain putih menutup sebagian wajahnya sebagai perlambang bahwa perjuangan suci telah dimulai. Berbarengan dengan itu berdatangan pula sekelompok pejuang lainnya dibawah pimpinan Haji Wasid, kiyai Haji Usman dari Tunggak, Haji Abdulgani dari Beji dan Haji Nasiman dari Kaligandu, mereka berdatangan dari arah utara dan bergerak menuju ke suatu tempat yang sudah ditentukan sehingga mencapai jumlah yang sangat besar.

Pekik takbir terdengar menggelegar bagai petir yang siap menyambar para Ambtenar, baik dari para pejabatnya atau siapa saja yang makan dari gaji pemerintah kolonial Belanda. Hari itu adalah hari yang sangat mencekam dan mengerikan, tak ada kesempatan bagi mereka untuk dapat mencari perlindungan.

Dengan penuh rasa ketakutan istri Asisten Residen Gubbels berlari ke Saneja, namun bukan pertolongan yang didapatkan, sampai disana justru ia meregang nyawa setelah beberapa saat bertarung dengan Nyi Kamsidah, seorang pendekar wanita dari Saneja. Akhir cerita, Nyi Kamsidah ditangkap dan diadili dan dijatuhi hukuman kerja paksa sepama 15 tahun. Padahal, seharusnya Nyi Kamsidah juga dijatuhi hukuman ganteng bersama 11 orang lainnya, karena telah dianghap telah melakukan sebuah kesalahan besar.

Dimana pada pada peristiwa itu banyak menelan korban dari kedua belah pihak, sedangkan bagi mereka yang ditangkap dan diadili. Ada yang dijatuhi hukuman gantung, hukuman kerja paksa dan senagian dari mereka banyak yang dibuang keluar pulau Jawa.

Adapun kisah tentang Nyi Masitoh sendiri memang tidak termasuk dari salah seorang yang dijatuhi hukuman pada masa itu, akan tetapi ia mempunyai kisah cerita dan tragedi tersendiri.

Nyi Masitoh adalah merupakan anak pertama Haji Akhiya yang kemudian menikah dengan Haji Abdurahman, salah seorang anak dari Ki Syafiudin. Haji Abdurahman juga merupakan cucu dari Ki Sahal, seorang ulama besar pada masa itu, yang juga sebagai guru dari Syeikh Nawawi Albantani. Pada saat peristiwa itu terjadi, Nyi Masitoh baru mempunyai bayi perempuan yang kemudian diberi nama Mariyam. Dan kebahagian yang dirasakan rupanya tidak berlangsung lama, karena sebuah konsekuensi yang harus diterimanya.

Allah Subhanawata'ala sedang menguji ketabahan salah seorang hambanya, dimana ada seorang perempuan yang harus kehilangan bapaknya sekaligus juga kehilangan suaminya dalam rentang waktu yang bersamaan. Suratan takdir telah digoreskan, suami yang sangat dicintai, Haji Abdurakhman ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Ambon, sementara itu bapaknya, Haji Akhiya, menemui ajalnya ditiang gantunhan.

Kisah tragis yang dialami oleh Nyi Masitoh adalah sebuah rangkaian dari kisah sejarah Geger Cilegon yang kini terlupakan dan terkubur bersama jasad-jasad para syuhada yang telah ikhlas berkorban dan tak pernah mengharap imbalan jasa.

Lembaga Budaya Cilegon.
Share To:

PortalMuslim.com

Media Referensi Muslim - Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Post A Comment: