Oleh : Bambang Irawan.

Pada episode ini, sama sekali tidak dimaksudkan untuk membanding-bandingkan tentang besar kecilnya sebuah peristiwa sejarah yang ada di republik ini. Karena sekecil apa pun peristiwa sejarah itu pasti mempunyai nilai serta makna yang sangat besar bagi peradaban sebuah bangsa. Kisah perjuangan rakyat Banten yang terjadi pada tanggal 9 Juli 1888 adalah merupakan sebuah perlawanan terdahsyat yang pernah dialami oleh pemerintah kolonial Belanda selama bangsa Eropa itu mengangkangi tanah jajahannya di bumi nusantara. Juga merupakan sebuah gerakan perjuangan rakyat terhadap panjajah yang dilaksanakan secara masal, terorganisir serta terencana dan belum pernah terjadi pada peristiwa sejarah perjuangan sebelumnya.

Sementara itu banyak kisah-kisah perjuangan lainnya yang dikenal secara nasional, karena memang sejarah-sejarah diajarkan serta para tokohnya diperkenalkan di sekolah-sekolah. Sedangkan mengenai sejarah perjuangan rakyat Banten yang terjadi pada tahun 1888 ini jangankan dikenal secara nasional, di wilayahnya sendiri saja jarang orang yang mengetahuinya. Banyak faktor yang menyebabkan sejarah besar ini menjadi pudar bahkan akhirnya terlupakan seperti sekarang ini.

Salah satunya, karena pemerintah kolonial Belanda sendiri tidak menginginkan peristiwa ini dapat terungkap secara gamblang. Bahkan terkesan dengan sengaja menutup-nutupi apa yang menjadi latar belakang dari sebuah gerakan yang dipimpin oleh para kiyai ini.

Tidak sampai disitu saja, upaya pemerintah kolonial Belanda untuk menciptakan imej nagatif serta memperkecil ruang lingkup dari peristiwa ini juga dilakukan melalui dunia pendidikan. Sampai pada era tahun 1930 an murid-murid sekolah desa diajarkan serta diperkenalkan bahwa Haji Wasid adalah seorang pimpinan perampok yang telah menjarah rumah para pejabat. Dengan demikian kisah perjuangan rakyat Banten ini telah terkaburkan menjadi sebuah peristiwa perampokan, yang tidak berbeda dengan sebuah peristiwa menghebohkan yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu. Dimana sebelumnya, ada seorang perampok yang bernama Sakam, ia yang sulit ditangkap sekalipun pemerintah pusat telah mengerahkan segenap kemampuannya. Ia licin bagai belut sehingga dianggap mempunyai kesaktian dan bisa menghilang.

Karena imaj yang sengaja dibangun, maka peristiwa besar ini tak ubahnya seperti peristiwa kerusuhan atau pemberontakan lainnya yang pernah terjadi di Banten; diantaranya, yaitu Geger Cikande (1845) dan Geger Gudang Batu (1850). Atau pada kejadian-kejadian lainnya, misalnya pada tahun 1836 dimana pernah terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh seorang perempuan yang dikenal dengan julukan Nyai Gamparan.

Dan perang Gudang Batu yang dipimpin oleh Haji Wakhia memang merupakan sebuah perlawanan terdahsyat terhadap pihak Belanda, akan tetapi kapasitasnya belum seluas dan sebesar peristiwa yang terjadi pada tahun 1888. Sekalipun memang peristiwa yang terjadi pada tahun 1850 itu sempat membuat tunggang-langgang tentara Belanda, karena melihat mayat teman-teman mereka disampirkan dipagar-pagar rumah penduduk kaya jemuran, tapi belum sehebat peristiwa yang terjadi pada tanggal 9 Juli 1888 ini, yang bukan hanya melibatkan seorang penimpin saja sebagaimana pada peristiwa yang lainnya, namun seluruh kiyai dari seantero Banten terlibat didalamnya.

Dan untuk mengkerdilkan peristiwa ini, pihak Belanda menempatkan Haji Wasid sebagai satu-satunya orang yang menjadi pemimpin dalam gerakan ini.

Rupanya upaya propaganda pemerintah Belanda cukup berhasil, sehingga timbul kesan bahwa peristiwa perjuangan rakyat Banten ini hanyalah sebuah kejadian perampokan biasa yang dipimpin oleh Haji Wasid. Maka tidak heran jika kemudian kejadian ini hanya dikenal dengan sebutan Geger Cilegon, dan tidak menarik perhatian berbagai kalangan untuk mengangkat sejarah yang pernah terjadi di bumi para wali ini kepermukaan. Padahal saking dahsyatnya, peristiwa ini sempat menggegerkan dunia internasional dan bukan hanya bersifat regional semata.

Hal itu lebih diperkuat lagi dengan fakta sejarah yang ada, bahwa semua pejabat pemerintahan dari tingkat pusat sampai tingkat daerah dicopot dari jabatannya.

Adapun masa jabatan Gubernur Jenderal dan Residen Banten pada saat itu lamanya bervariasi, berkisar dari 2 - 3 tahun atau 5 - 7 tahun. Sedangkan pergantian jabatan antara Gubernur Jenderal dengan Residen Banten itu tidak pernah dilakukan pada tahun yang bersamaan. Namun ada yang menarik untuk dicermati, ketika empat tahun terakhir menjelang meletusnya Geger Cilegon, dimana pergantian pejabat Gubernur Jenderal dengan Residen Banten dilakukan pada tahun yang sama, yaitu pada tahun 1884. Kemudian yang lebih menarik lagi, kedua pejabat itu diganti juga bersamaan dengan tahun meletusnya Geger Cilegon, yaitu pada tahun 1888.

Ketika peristiwa Geger Cilegon meletus, jabatan Gubernur Jenderal di Batavia dipegang oleh Otto van Rees (1884 - 1888) yang kemudian diganti oleh Cornelis Pijnacker Hordijk (1888 - 1893). Sementara yang menjabat Residen Banten pada waktu itu adalah E.A. Engelbrecht (1884 - 1888), yang akhirnya mengundurkan diri karena merasa tidak nyaman lagi dengan berbagai sorotan dan tekanan dari pemerintah pusat dan pihak pers tentang pemberitaan dirinya berkaitan dengan kelalaiannya.

Ia merasa dipersalahkan karena sebagai pejabat serta penguasa tertinggi di Banten sampai kecolongan serta tidak mengetahui akan akan adanya rencana serta meletusnya peristiwa itu, kemudian posisinya digantikan oleh J.A. Velders (1888 - 1892).

Karena dalam peristiwa itu Asisten Residen Anyer, Johan Hendrik Hubert Gubbels terbunuh, maka kedudukannya digantikan oleh van Hasselt. Sedangkan Patih, Raden Penah, yang selamat dari tragedi itu kemudian diberhentikan dari jabatannya, sekalipun kemudian ia diangkat menjadi anggota pengadilan yang bertugas memeriksa perkara peristiwa Geger Cilegin itu sendiri.

Dan akibat dari peristiwa itu telah membuat pihak Belanda lebih waspada serta berhati-hati menerapkan berbagai kebijakan terhadap rakyat jajahannnya, terutama berkaitan dengan hak asasi khususnya dalam hal keyakinan agama yang dipeluknya.

Lembaga Budaya Cilegon (LBC).
Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: