seputarbanten.com-CILEGON, Andriyana (25), tahanan titipan Polsek Cilegon dalam kasus penjambretan tewas di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Cilegon setelah dikeroyok teman satu selnya. Andriyana yang merupakan warga lingkungan Sukamaju, Kelurahan Ramanuju, Kecamatan Purwarkarta, Kota Cilegon ini dibawa ke Lapas Cilegon 22 November 2016 di kamar blok C.


Dari informasi yang berhasil dihimpun, Andriyana dikeroyok karena dicurigai teman sesama selnya sebagai informan petugas kepolisian. Entah bagaimana awalnya, beberapa jam setelah dimasukan ke lapas, Andriyana dipukuli hingga mengalami luka serius. Kepalanya benjol besar dan mengalami memar. Untung petugas lapas bergerak cepat dan menyelamatkan Andriyana. Setelah kejadian, Andriyana dinyatakan sehat dan tidak memiliki keluhan.

Namun 10 hari kemudian, kondisi kesehatannya tiba-tiba menurun. Sabtu (3/12), pukul 00.05 WIB, kondisi korban semakin parah, sehingga petugas lapas melarikan korban ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cilegon.Namun sayangnya nyawa Andriyana tidak dapat terselamatkan. Kuat dugaan, Andriyana mengalami luka dalam akibat pengeroyokan.

Kepala Lembaga Permasyarakatan Kelas III kota Cilegon Andi Muhammad Syarif membenarkan jika Andriyana sempat dikeroyok oleh sesama tahanan dan mengalami luka memar di bagian tangan dan kepalanya. Namun saat itu kondisinya masih baik.

"Berdasarkan info yang kita terima, dia dikeroyok karena dicurigai sebagai informan," katanya

Menurut Andi, kasus meninggalnya Andriyana ini sudah ditangani oleh Polda Banten dan Polres Cilegon. Sedikitnya tujuh tahanan sedang dalam pemeriksaan oleh kepolisian. Adapun inisial ke 7 orang itu diantaranya, JH, IL, AD, AS, M, MI dan A.

"Dari Polda juga sudah datang ke sini, hari ini (kemarin -red) dilanjutkan Polres Cilegon dan akan membawa 7 orang tahanan ke Polres untuk dimintai keterangan," ujarnya.

JH, saksi mata pengeroyokan mengaku, sebelum pemukulan, ia yang mengantar korban ke kamar blok C. Namun dirinya tidak mengetahui secara persis awal mula pengeroyokan tersebut.

"Tugas saya disana sebagai penerima warga binaan baru. Setelah saya antar ke sel langsung saya tinggalkan. Tapi tidak lama setelah itu terjadi keributan. Saat saya kembali korban sudah babak belur. Kemudian, korban langsung dibawa ke rumah sakit," katanya.

Menurut JH, dari informasi yang dia peroleh, korban dituding sebagai informan oleh salah satu warga binaan.

"Katanya dia itu cepu (informan-red), jadi teman-taman langsung memukulinya," ujarnya.

IL, salah satu pelaku pengeroyokan mengatakan bahwa ia ikut memukuli karena terbawa suasana keributan di dalam sel.

"Karena teman-teman mukul saya ikutan. Saya cuma tiga kali mukul dan dua kali nendang," katanya.

Kasatreskrim Polres Cilegon AKP Muhammad Ridzky Salatun mengatakan, pihaknya masih mendalami kasus tersebut. Untuk pemeriksaan sementara pihaknya tengah meminta keterangan dari tujuh orang yang juga diduga ikut terlibat dalam pengeroyokan.

"Kemarin sudah kita lakukan pemeriksaan di Lapas dan meminta keterangan ke 8 orang. Untuk hari ini kita akan meminta keterangan dari 7 orang, yang akan kita periksa di Mapolres," katanya.

Menurut Ridzky, pihaknya sudah melakukan otopsi dan visum. Adapun hasil yang diperoleh, korban mengalami patah tulang rusuk kiri dan kanan, tangan kiri mengalami bengkak, leher memar, dan kepala terdapat luka bekas benturan benda tumpul.

"Ada banyak luka ditubuh korban. Saat ini kita masih periksa secara intensif," ujarnya.(Dewan)
Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: