Oleh : Bambang Irawan.

Pada episode sebelumnya telah dijelaskan bahwa Cilegon adalah merupakan sebuah wilayah administratif yang menjadi pusat pemerintahan afdeling, yang didalamnya terdiri dari tiga wilayah kawedanaan. Oleh karenanya pada masa itu Cilegon mempunyai dua buah alun-alun, berbeda dengan Anyar, Ciruas atau Kramatwatu yang hanya memiliki satu buah alun-alun saja. Sekalipun alun-alun Kramatwatu saat ini sudah tidak lagi merupakan tanah lapang yang terbuka namun masih dapat dilihat jejaknya. Begitu pun dengan alun-akun Anyer walau pun bentuk dan suasananya tidak seperti dulu lagi namun keadaannya masih relatif utuh.

Apa yang disebut dengan alun-alun itu identik dengan lapangan bola, karena pada era kemerdekaan alun-alun sering dipergunakan sebagai sarana bermain bola. Sementara untuk alun-alun yang ada di Cilegon, baik yang menjadi bagian dari gedung kawedanaan atau pun alun-alun yang menjadi bagian dari kantor pemerintah afdeling sudah tidak ada lagi jejaknya. Bahkan seluruh bangunan yang pernah menjadi saksi sejarah atas terjadinya peristiwa Geger Cilegon itu sudah tidak ada sama sekali peninggalannya.

Adapun bekas gedung kawedanan yang masih ada sampai sekarang itu tidak termasuk kedalam kategori bangunan yang menjadi saksi atas tragedi berdarah yang terjadi pada tahun 1888.
Pada waktu itu gedung kawedanaan Cilegon, yang sekarang menjadi rumah dinas walikota, tidak menjadi target sasaran penyerangan dari para pejuang Banten yang dipimpin oleh para kiyai.

Tapi sekakipun begitu, ia juga merupakan gedung peninggalan era kolonial Belanda yang masih tersisa serta terpelihara. Sedangkan bangunan-bangunan bersejarah peninggalan Belanda yang lainnya sudah tidak dapat dijumpai lagi bekas-bekasnya.

Pada masa itu gedung pemerintahan kawedanaan dengan gedung pemerintahan afdeling lokasinya memang berdekatan, bahkan masing-masing alun-alunnya saling bersebelahan, satu dibagian utara yang lain dibagian selatan.

Pada masa pemerintahan kolonial Belanda alun-alun adalah merupakan lahan terbuka yang sangat diprioritaskan keberadaannya. Mereka sudah memikirkan betapa pentingnya fungsi ruang terbuka hijau yang menjadi fasilitas umum serta bagi keperluan lingkungan komplek tempat tinggal para pejabatnya.

Wajar jika waktu itu bangsa Eropa lebih maju peradabannya karena memang mereka berpikir jauh kedepan. Kalau pun nantinya jumlah penduduk semakin banyak seperti saat sekarang, pengembangan kotanya akan dilakukan disebelah luar dari pusat kota.

Dengan demikian suasana kota akan tetap terlihat indah dan asri tidak terkesan uyek-uyekan seperti suasana perkotaan pada umumnya.
Struktur pemerintahan pada era kolonial Belanda sebenarnya tidak jauh berbeda dengan struktur pemerintahan pada masa sekarang. Yang berbeda hanya orang yang menjabat pada posisi tertentu, dimana posisi yang cukup strategis diduduki oleh orang bule, sebab pada masa itu Indonesia merupakan bagian dari pemerintahan Belanda dan tertulis pada undang-undang dasar negara Belanda.

Waktu itu Jakarta atau yang disebut Batavia merupakan ibu kota negara jajahan dan dikepalai oleh seorang Gubernur Jenderal.
Sedangkan wilayah administrasi yang berada dibawah Gubernur Jenderal terdiri dari Keresidenan atau setaraf dengan propinsi, dan wilayah Afdeling atau setaraf dengan Kabupaten.

Oleh karena itu, ketika negara republik Indonesia merdeka pada tahun 1945, seharusnya Banten ditetapkan sebagai sebuah propinsi seperti pada masa sekarang ini.

Begitu juga dengan Cilegon, ketika memasuki era kemerdekaan, Cilegon masuk kedalam wilayah kabupaten serang, tapi sekarang sudah tidak lagi semenjak menjadi kota madya. Namun sayang, ada beberapa wilayah yang justru masuk kedalam bagian dari kabupaten Serang, padahal secara historis seharusnya masuk wilayah Cilegon.

Oleh karenanya cukup dimaklumi jika di Cilegon ada warga yang bertetangga bahkan rumahnya sangat berdekatan tetapi yang satu masuk wilayah Cilegon sementara tetangganya masuk kedalam wilayah kabupaten Serang. Jika dicari apa dasar pemikirannya memang tidak ketemu, tapi begitulah kenyataannya mau diapain lagi.

Geger Cilegon adalah sebuah peristiwa perlawanan rakyat Banten yang telah direncanakan dengan matang. Menjelang dimulainya penyerangan ke pusat kota, pada malam harinya didahului oleh penyerangan terhadap distrik-distrik atau sekarang dinamakan wilayah kecamatan, yang ada disekitarnya, yaitu Bojonegara, Balegendung, Krapyak, Grogol dan Mancak. Dan begitu tiba di Bojonegara, Haji Wasid langsung menggerakan para pengikutnya untuk menangkap Asisten Wedana disana. Rumah dan kantornya digeledah, namun yang dicari tidak diketemukan karena sedang inspeksi ke desa-desa yang ada diwilayah wewenangnya.

Sementara itu Juru Tulis Asisten Wedana, Asikin, yang sedang bertugas menunggu rumah atasannya itu dibunuh, dan arsip-arsip yang ada dibakar.

Keesokan harinya, Haji Wasid bersama dengan sebagian besar pengikutnya berangkat ke Cilegon, bersama-sama dengan para pejuang dari Beji, Tunggak, Kaligandu dengan tujuan menyerang pusat kota. Sementara sebagian lainnya tetap melakukan pencarian terhadap Asisten Wedana Bojonegara dengan menggeledah seluruh daerah yang ada disekitar gunung Awuran. Nampaknya upaya pencarian itu sia-sia karena yang diketemukan hanya dokarnya saja, yang kemudian dokar itu dipergunakan untuk mengangkut rombongan mereka ke Cilegon dan bergabung dengan kelompok pasukan lain yang berasal dari Arjawinangun, Gulacir, Cibeber, Saneja dan desa-desa disekitarnya.

Kemudian terdengar pekik takbir menggelegar dan terdengar ke segala penjuru kota, sebagai pertanda bahwa genderang perang telah dibunyikan....dung dung dung...!

Lembaga Budaya Cilegon.
Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: