Masyarakat Kota Cilegon dan umumnya Banten tentu sudah mengetahui akan kisah Geger Cilegon 1888, tragedi berdarah yang menggetarkan kolonial Belanda, sebuah gerakan penegasan tentang kepedulian Ummat islam dalam pembelaan terhadap agamanya yang terkoyak dan dinistakan, menurut Dr. Sartono dalam bukunya "Pemberontakan Petani Banten" pemicu awal keresahan masyarakat pada saat itu akibat upeti paksa yang bercampur dengan sentimen agama, belum lagi terkoyaknya hak kedaulatan dan martabat pribumi terhadap pemerintahan kolonial Belanda, dan masa paceklik pasca letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 yang menyebabkan terjadinya gelombang tsunami semakin menghimpit perekonomian masyarakat dan membuat keterpurukan yang semakin menjadi.

Geger Cilegon pada dini hari 9 Juli 1888 adalah akumulasi dari kemarahan atas ketidakadilan kolonial dengan mendominasi perekonomian dan penguasaan sumber-sumber daya alamnya, sehingga menyebabkan perpenolakan masyarakat membayar upeti kepada kolonial Belanda disaat masa paceklik, dan setelah menyadari sebagai tuan rumah dan tidak ingin terus ditindas, atas dasar itulah kemudian masyarakat cilegon yang dikomandoi Ki Wasyid, melakukan perlawanan kepada pemerintahan kolonial Belanda .

Sebuah peristiwa sejarah yang sudah lebih dari se-abad ini sudah seharusnya kita analisa secara bersama dalam konteks kekinian yang secara umum terjadi di Negara ini. Ada beberapa kemiripan peristiwa yang terjadi belakangan ini, Jika diruntut latar belakang penyebab pemberontakan tersebut ada tiga hal penting yang menjadi pemicu terjadinya gerakan perlawanan, yang pertama disebabkan kesulitan ekonomi yang diakibatkan kekejaman kolonial dalam mendominasi dan menjarah sumber-sumber daya alam yang di exploitasi dan masa paceklik panjang pasca meletusnya gunung krakatau, kedua sentimen agama (ancaman dalam menjalankan agama islam) serta intervensi terhadap para ulama islam, dan ketiga keinginan untuk menegakkan kedaulatan dan kemandirian serta tidak ingin dicampuri oleh bangsa asing, dan kolonialisme dan imperialisme sangat membelenggu masyarakat Indonesia.

Kota Cilegon adalah sebagai tuan rumah ratusan Industri besar akan tetapi dalam ranah ekonomi kapitalisme adalah memisahkan intervensi negara dengan perekonomian, sebab salah satu ciri negara kapitalis adalah berpindahnya peran pemerintah yang semula melayani rakyat berubah menjadi pelayan investor atau pemilik modal. Menurut AM Saefuddin (2011), kekuatan ekonomi kapital ini menggurita, lebih dari sekedar sistem perekonomian, bahkan kapitalisme sebagai bagian dari gerakan individualisme, dan dalam perjalanannya sistem kapitalisme telah memberikan efek buruk bagi perekonomian dan kesenjangan sosial yang semakin menganga, sedangkan masyarakat kecil tetap berada dalam bingkai kemiskinan akibat kapitalisme.

Produksi pertanian pun tak luput dari ekses kebijakan kapitalis tersebut, tak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Alhasil, dengan dibukanya keran impor, pasar domestik pun dibanjiri produk asing dari beras, sapi, kedelai, kentang, buah-buahan, hingga garam.
Sebuah pertanyaan klasik yang selalu kita dengar, “Mengapa Indonesia yang kaya sumber daya alam dan sumber daya manusia hingga hari ini menderita?”
Di sisi lain, kekayaan negara kita dikeruk setiap hari dan sebagian besar dinikmati segelintir orang kaya raya di negeri ini, korporasi-korporasi multinasional, dan negara-negara maju. Banyak kajian dan studi yang dilakukan para ahli dari berbagai disiplin ilmu, terutama pakar ekonomi dan manajemen, berusaha menjawab pertanyaan klasik tersebut. Namun kemiskinan pada hakekatnya disebabkan oleh pembagian kekuasaan dan sistem pengelolaan ekonomi yang salah. sehingga apa yang terjadi saat ini adalah pemeo ‘uang mengatur segalanya.’. Jadi hakekatnya kita formalnya demokrasi nyatanya ‘monocracy’. Tidak hanya terhadap Kelas Buruh, Kaum Tani, dan pemuda-mahasiswa, penggusuran terhadap pedagang pasar dan pedagang kaki lima marak dimana-mana. Sedangkan pedagang warung dan toko kelontong semakin bangkrut karena minimarket yang merambah kota hingga desa.

Brainwash atau cuci otak dan mencitraburukan Islam dan kelompok Islam, dgn tujuan mempengaruhi frame berpikir anak-anak dilakukan secara sistematis, melibatkan institusi pendidikan formal, agar mereka phobia dengan dakwah amar makruf nahi mungkar. tumbuh subur berbagai macam tempat kemaksiatan, jika dulu ada pohon keramat sehingga banyak masyarakat yang syirik maka hari ini banyaknya masyarakat yang terjebak dengan dunia kesenangan, ditambah lagi makin berkembang bangkitnya paham komunisme sebuah pemahaman yang menganggap agama adalah candu, kasus penistaan agama yang mencuat pada akhir tahun lalu, yang hingga kini belum ada kejelasan hukum atas pelaku penista yang kemudian berkembang penista-penista lain yang seolah sudah terkoordinir dan terlihat sudah direncanakan.
Belum lagi disusul adanya steatmen dari mantan presiden Indonesia yang menganggap akhirat adalah ramalan, atau bahkan sampai adanya paham yang berupaya memisahkan antara negara dan agama. Tentu saja membuat sebagian masyarakat Cilegon yang dikenal sebagai kota santri merasa kecewa dan marah. Walaupun peristiwa itu adalah dalam skala nasional, namun tercatat ribuan masyarakat Cilegon ikut berpartisipasi pada aksi 411 dan 212 lalu, sebagaimana marahnya kalangan Ulama, Santri, Petani, dan Jawara sehingga meletuslah peristiwa geger Cilegon. Dalam salah satu versi sejarah menyebutkan, selain melarang Tarhim dan Adzan shubuh di masjid belakang kantor Kewedanaan Tjilegon (sekarang Rumah Dinas Walikota), kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang selalu mengawasi dan membatasi Syiar agama yang dilakukan oleh para Ulama` saat itu. Tak hanya itu, dalam catatan Sartono, adanya larangan mengadakan perayaan pernikahan dan khitanan dengan arak-arakan yang mewah serta takbiran menjadi penambah sakit hati kaum muslim rakyat Banten. Perasaan benci pada kaum kafir Belanda semakin menjadi-jadi.

Tentu kita berharap kesadaran -kesadaran dari semua pihak dalam membenahi kondisi berbagai persoalan yang ada seperti sekarang ini, untuk selalu menjaga dalam bingkai kebhinekaan, hanya jika batasan-batasan toleransi beragama selalu dibuat bias atau bahkan terkoyak dan cenderung ada yang mengadu domba maka ini menjadi kehawatiran. Mari bersama untuk memerangi penjajahan (ekonomi) dan membangun Indonesia yang berdaulat dan menyejahterakan seluruh rakyat berdasarkan ekonomi kerakyatan melalui koperasi, memperkuat perusahaan milik negara dengan melibatkan putra-putri terbaiknya, dan usaha swasta. selain daripada itu maka bukanlah kesejahteraan yang di peroleh malainkan kemiskinan, kelaparan, pengangguran menjadi hal biasa di tengah tengah masyarakat. Dalam al quran Allah SWT berfirman: “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al A’raf [7] : 96)

Penulis Opini adalah Aktifis pemerhati Cilegon
-Khairul Ilung-
Editor-Dewan Redaksi Sbo
Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: