Pembangunan industri di satu sisi memberikan perubahan yang berdampak positif namun disisi lain juga membawa perubahan yang berdampak negatif, yaitu terjadinya pencemaran terhadap lingkungan sekitar industri seperti polusi air bersih, polusi kebisingan suara, dan polusi udara. 
Tuntutan sosial pada perusahaan muncul sebagai refleksi pertanggung jawaban dari perusahaan (social responsibility), seperti yang dituntut oleh warga Cilurah atas pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh
PT. Indoferro yang memproduksi besi kasar atau besi asalan (pig iron) dan nikel pig iron yang masing-masing berkapasitas 1 juta ton serta 250 ribu ton setiap tahun.
Forum Pembela Masyarakat Cilurah, yang diketuai oleh Saifulloh Asas, mangajukan 3 (tiga) tuntutan, Pertama PT. Indoferro harus memperbaiki infrastruktur jalan, Kedua Pt. Indoferro harus memperbaiki timbunan tanah nikel yang menjadi salah satu bahan baku PT Indoferro di “Stockpile” yang seharusnya tertutup, pihak perusahaan pun harus mengecor dan membuat saluran drainase, jadi air dari Stockpileitu sendiri tidak mengalir kepermukiman masyarakat, dan terakhir, warga menghendaki adanya Ruang Penghijauan untuk mengurangi dampak dari debu /polusi udara. 
Dalam kesempatan itu Asas menyampaikan bahwa, keluhan warga masyarakat terkait permasalahan limbah yang sangat mengganggu masyarakat cilurah, sebetulnya sudah seringkali disampaikannya kepada Instansi kelurahan setempat untuk memediasikan hal tersebut kepada PT. Indoferro. Dikatakannya bahwa, "Limbah yang dihasilkan Pabrik ini adalah bau yang sangat menyengat, belum lagi debu yang sangat mengganggu kesehatan masyarakat, namun tuntutan tersebut belum ada realisasi dari PT. Indoferro.
Asas juga mengisahkan sejak hadirnya perusahaan ini sejak tahun 2008, PT. Indoferro tidak pernah membuat masyarakat Cilurah merasa diperhatikan, bahkan sebaliknya pihak masyarakat Cilurah telah dirugikan dengan ketidak nyamanan dengan keberadaan PT Indefero, yang berada dilingkungan tempat tinggal masyarakat Cilurah. "Dampak yang ditimbulkan oleh pihak PT Indefero sangat mengganggu kenyamanan, tuntutan sudah ditanggapi oleh pihak kelurahaan, dengan memfasilitasi masyarakat pada saat menyampaikan aspirasi, saya mengharapkan agar pihak perusahaan memberikan solusi dari persoalan yang ditimbulkannya, rasanya kami warga Cilurah tidak menuntut yang macam-macam atau meminta hal-hal yang  diluar dari pada itu, hanya meminta solusi atas dampaknya terhadap lingkungan ". ungkap Asas menegaskan.

Asas menambahkan, bahwa dampak limbah PT. Indeferro kepada masyarakat, sudah disampaikan kepada badan lingkungan hidup kota Cilegon (BLHD), Namun tidak merespon keluhan dari masyarakat Cilurah. "Kami dari Forum Pembela Masyarakan Cilurah, yang saya gerakkan, sudah menyampaikan hal ini kepada badan lingkungan hidup (BLHD) kota cilegon, akan tetapi sampai saat ini belum ada realisasinya". Dengan tidak adanya tanggapan, baik dari perusahaan atau BLHD, maka masyarakat Cilurah meminta kepada DPRD Kota Cilegon, khususnya kepada Anggota Komisi II, untuk menegur dan menindak lanjuti permasalahan yang terjadi, karena itu sudah menjadi tanggung jawabnya", ujar Asas dengan nada tegas.
Terkait dengan tuntutan warga Cilurah, Anggota Komisi II, Yusuf Amin yang ditemui diruang Fraksi PDIP membenarkan atas keluhan dari masyarakat Cilurah, dan dalam pernyataannya pihaknya berjanji akan  menindaklanjuti sesegera mungkin, "kami dari komisi 2 akan segera menindak lanjuti keluhan dari masyarakat cilurah dengan secepatnya, dengan memanggil pihak Manajemen Perusahaan Indefero" ujarnya.

LIDYA-SBO
Share To:

PortalMuslim.com

Media Referensi Muslim - Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Post A Comment: