Seputarbanten.com - Cilegon, Persisnya di tanggal 12 April pada pukul 23.03 salah satu pengguna Facebook upload foto sepasang anak muda yang menurutnya masih usia sekolah kedapatan sedang duduk mesra sambil melakukan adegan panas, sesekali melirik kanan, melirik kiri tampak sedang memastikan bahwa mereka sedang berada ditempat yang sepi tanpa ada sepasang matapun yang melihat adegan mereka.
Kejadian itu pun di jepretnya lalu kemudian diunggah melalui akun facebooknya pada sebuah halaman faktabanten.com salah satu media online di Kota Cilegon, Tak berselang lama foto tersebut sontak mendapat reaksi dari banyak kalangan pengguna fb lainnya, hingga tulisan ini kami buat sempat dibagikan pengguna lainnya ke halaman mereka hingga mencapai ratusan kali, serta mendapat berbagai komentar yang mengecam dan menyatakan ketidak pantasan atas perbuatan sepasang kekasih di usia sekolah, dalam status pengunggah mencantumkan sebuah lokasi Taman, yaitu Taman Kota-Kecamatan Cilegon, persisnya disamping Kejaksaan Negeri Cilegon. 
Dalam statusnya pengunggah menuliskan status, "Lantas siapakah yang bertanggung jawab ?", Sebuah status yang menggelitik kita tentunya, dan seolah bermaksud untuk menyampaikan, bahwa tanggung jawab semua pihak agar lebih mementingkan pendidikan moral untuk remaja kita, terlebih ulama yang memiliki tanggung jawab besar dalam membimbing moral masyarakatnya.

Pacaran memang sudah sudah mewabah di dunia anak remaja, untuk menghadapi hal tersebut, para orang tua harus mengawasi dengan benar putra-putrinya, Karena efek dari pacaran yang mempunyai kecenderungan membawa mudharat bila dibandingkan dengan manfaatnya, atau justeru membawa petaka, maka tak heran untuk saat ini banyak kita dengar seorang remaja sekolah yang hamil diluar nikah.

Fenomena ini memang sangat sulit untuk dibendung, karena mereka para remaja sendiri sudah menganggap trend atau anggapan ndeso jika belum memiliki pacar, tidak gaul atau ketinggalan jaman. Sementara faktor terbesar yang mempengaruhinya adalah tayangan televisi yang tidak mendidik, atau dengan tontonan-tontonan yang jauh dari nilai-nilai yang islami. belum lagi diperparah dengan maraknya jejaring sosial. 

Perubahan masyarakat akibat berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut membawa dampak yang besar pada budaya, nilai, dan agama. Nilai-nilai yang sementara ini dipegang kuat oleh masyarakat Cilegon yang dikenal Islami, kini mulai tergeser secara perlahan, dengan nilai-nilai yang tidak sejalan dengan landasan moral agama, sehingga penyimpangan nilai kian makin berkembang. 

Dalam hal ini salah satu narasumber kami Ustd. Sunardi salah satu tokoh muda masyarakat di Citangkil, memberikan cara pandangnya  dalam melihat fenomena tersebut diatas,  Pendidikan moral yang selama ini menjadi garapan pendidikan dalam keluarga mulai dirasakan hampa makna, mengingat orang tua tenggelam dalam kesibukannya masing-masing. Sementara sekolah dan perguruan tinggi, padat dengan pencapaian tujuan kurikulum yang menonjolkan aspek kognitif. Output pendidikan lebih banyak menghasilkan pengetahuan, tetapi tidak mampu menghadapi tantangan hidup dan kehidupan. Standar moral dan spiritual anak nyaris tanpa sentuhan, sehingga nilai dan norma yang tertanam pada diri anak hanya sesuatu yang mustahil atau absurd.

Bangsa ini sangat rentan terhadap nilai-nilai baru yang datang dari barat yang berseberangan dengan nilai-nilai ketimuran, dengan mudah diadopsi terutama oleh generasi muda. Nilai yang mudah ditiru pada umumnya adalah nilai-nilai yang berisi kesenangan, permainan, dan hedonisme yang sering kali membawa dampak buruk. Sebaliknya, nilai-nilai positif dari Barat seperti kecerdasan dan kemajuan iptek tidak dicerap dengan baik. 

Menghadapi persoalan tersebut, agar semua kalangan (Orang tua, Ulama, Guru, dan Pemerintah) untuk membina dan mengembangkan pendidikan nilai, moral, dan norma secara bersama-sama. Dimana kegiatan pengajian dikampung-kampung, ngaji kuping seakan sudah langka didapat, yang ada hanyalah acara-acara keagamaan seremoni belaka dan itu pun hanya pada saat hari besar islam, alasan berikutnya banyak siswa Madrasah yang putus ditengah jalan, masih menurut narasumber, doktrin Aqidah, Akhlak seharusnya didapatkan anak-anak di Madrasah, menjadi penting bagi para orang tua yang dituntut untuk lebih berperan dalam mendorong anaknya agar mengutamakan sekolah madrasah lebih dulu. 

Patut kita syukuri bersama kepedulian Pemerintah Kota Cilegon dalam membuat PERDA DINIYAH khusus mengenai pendidikan Dini dalam, jika kita cermati bersama tidak sedikit Generasi kita yang lulus dari pondok pesantren modern atau pondok tradisional begitupun lulusan dari institut Agama Islam, namun sepertinya mereka lebih tertarik untuk menekuni dunia pekerjaan atau dunia usaha lainnya, dan menurunnya minat mereka untuk kembali mengajarkan ilmunya adalah fenomena baru, yang bisa kita baca adalah persoalan kesejahteraan sebagai pelaku pendidik Agama, dengan melihat urgensi pendidikan moral agama itu barangkali sudah saatnya ada keberpihakan pemerintah, untuk bagaimana bisa memberi subsidi terhadap ulama, ustad dalam kegiatannya. Inilah sepertinya yang menjadi salah satu penyebab mundurnya para santri untuk menjadi pendidik Agama. Wallahu A'lam Bishowab


Resume Ceramah Ustd. Sunardi
Penulisan-Dewan Redaksi SBO
Share To:

PortalMuslim.com

Media Referensi Muslim - Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Post A Comment: