LSM dikenal sebagai salah satu elemen yang berada di garda depan dalam mengkritik kebijakan negara. Karenanya citra LSM di mata rakyat saat itu menjadi heroik dan penuh gejolak perlawanan terhadap ketidak adilan. Namun pasca orde baru runtuh dan memasuki era reformasi, orang ramai-ramai mendirikan LSM dengan beragam bentuk dan kegiatannya. Pada satu sisi, fenomena kemunculan banyak LSM ini harus kita pandang sebagai gejala positif bagi tumbuh dan meluasnya partisipasi politik masyarakat. Akan tetapi bila tumbuh suburnya LSM ini tidak didukung oleh manajemen kelembagaan dan pendanaan yang transparan dan akuntabel, maka tidak mustahil akan membuka peluang terjadinya penyalahgunaan mandat yang sebenarnya dari misi suci LSM itu sendiri, sehingga berakibat pada buruknya citra LSM. 

Menurut pengamatan Benny Subianto yang ditulisnya dalam opini Kompas beberapa waktu lalu, LSM kini sudah banyak yang menjelma menjadi sebuah industri yang tidak lagi bersifat non profit organization, melainkan lebih mengarah pada profit organization bahkan company organization! (Kompas/04/05/2007).

Fenomena yang marak terjadi adalah menjamurnya ormas lebih merupakan resonansi yang bersifat tidak langsung dari perubahan sosial, khususnya di negara maju dengan gejala kemunculan new social movement. Gerakan-gerakan ini berkarakter posmodernist yang ide dan pendekatannya banyak diadopsi oleh kalangan ormas di Banten. yang selama ini adalah bahwa "LSM" belum dapat menjadi katalisator dalam tingkat macro concept."

Sejatinya bahwa Lembaga Swadaya Masyarakat ("LSM") atau Non Guvermental Organization (NGO) menurut H. Sumitro Maskun, merupakan usaha mandiri dari kalangan organisasi swasta yang berciri altruistis, edukatif, agama dan perlindungan alam lingkungan untuk kesejahteraan umat manusia dalam masa kini dan masa datang. Usaha "LSM" adalah usaha-usaha kemanusiaan (Humanisme) yang mengutamakan masyarakat kaum "kecil" sebagai sasaran pemberian bantuan dalam bidang keterampilan dan cara hidup dan penghidupan lebih baik.

Melalui "LSM", dapat disampaikan dan diperkenalkan kepada masyarakat berbagai macam teknologi tepat guna yang dibutuhkan oleh masyarakat dan dilakukannya usaha-usaha peningkatan pendapatan penduduk, kesempatan kerja di desa, terutama bagi kaum muda dan wanita.

Peran "LSM" dalam membangkitkan masyarakat desa adalah menghilangkan penyebab-penyebab pokok dari kemiskinan dan kebutaan-kebutaan, menghilangkan ketimpangan-ketimpangan struktural yang berakar di masyarakat dan menghilangkan nilai-nilai budaya yang menghambat perkembangan masyarakat.

Peran "LSM" selanjutnya adalah memanfaatkan potensi sumber daya untuk pembangunan, mempersiapkan masyarakat akan hidup di masa depan secara lebih baik, mengembangkan keterampilan-keterampilan khusus yang telah timbul di beberapa kalangan masyarakat tertentu, menciptakan iklim agar masyarakat terdorong untuk giat berusaha dan lain-lain.

Peran "LSM" sebagai katalisator pembangunan biasanya dalam bentuk mempengaruhi masyarakat dalam jangka waktu yang cukup pendek guna untuk menciptakan suasana dapat terbentuknya organisasi di kalangan masyarakat atau guna menciptakan struktur dan proses kegiatan masyarakat yang mantap dalam usaha memenuhi kebutuhan pokok mereka. Sebagai katalisator, "LSM" merupakan "Agent of change" yang dapat masuk atau menerobos sampai ke lingkungan masyarakat yang paling bawah, atau dapat melakukan pengawasan sehingga menciptakan check and balances, dan juga memiliki peranan untuk memonitoring segala kegiatan Pemerintah dan berhak melakukan protes bila hal tersebut dinilai tidak baik dan tidak sejalan dengan tujuan masyarakat.Saat keputusan menimbulkan kerugian dalam berbagai kebijakan, maka lahirlah sejumlah gerakan untuk memberikan pengayaan dan pendampingan khusus bagi yang mendapatkan perlakuan tidak adil. Pendampingan-pendampingan tersebut, baik yang dilakukan oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau lembaga pengayaan yang fokus dengan perjuangan keadilan sosial sebagai suatu bentuk advokasi.

Suatu kenyataan yang harus diakui bersama bahwa ada beberapa kelemahan yang sangat mendasar dari hadirnya LSM, Kelemahan yang disebabkan oleh beberapa faktor yang kemudian yang terjadi adalah proses-proses kerja LSM tidak lagi murni, bahkan jauh dari tujuan-tujuan pendirian Lembaga itu sendiri, bahkan sangat dimungkinkan bahwa LSM :
a.         Keterbatasan keuangan (tingkat keberlanjutannya rendah)
b.        Keterbatasan kapasitas institusi/kelembagaan
c.         Tertutupnya/kurangnya komunikasi intern organisasi dan/atau koordinasi
d.        Intervensi dalam skala yang kecil
e.         Kurangnya pemahaman akan konteks sosial ekonomi yang lebih luas
f.         Sikap terpola (paternalistic) membatasi tingkat keterlibatan partisipatif dalam desain program/proyek.
g.        Terbatasnya cara pendekatan atas suatu masalah atau
h.       Kepemilikan teritorial” dari suatu daerah atau proyek mengurangi kerjasama antara badan-badan, terlihat seperti ancaman atau adanya persaingan.

Ruang Opini - Redaktur SBO
Share To:

SeputarBanten.com

Media Berita Seputar Banten

Post A Comment: