Seputarbanten.com - Cilegon, Pelarangan Takbir dalam rangka merayakan Hari Raya Idu Fitri dijakarta, Menyusul pelarangan takbir keliling juga terjadi dikota Cilegon yang mayoritas beragama Islam ini mendapat reaksi dan tanggapan dari beberapa elemen masyarakat dan Tokoh Ulama.

Umat Islam khususnya dikota Cilegon yang tengah resah dengan terbitnya surat edaran Sekretaris Daerah (Sekda) dengan menerbitkan Surat Nomor: 003.2/3555/Pemt, yang mengimbau Camat dan Lurah di Kota Cilegon agar melarang warganya yang akan melakukan takbir keliling.. Hal inilah yang kemudian menuai kritik dari beberapa elemen masyarakat, dan beberapa Ulama dikota Cilegon.(23/06/17)

Adalah H. Bahri Syamsu Arief selaku salah satu tokoh Ulama Cilegon memberikan tanggapannya kepada SBO,  "Terkait pelarangan takbir keliling, saya prihatin mengingat bahwa Syi'ar Agama Islam yang secara implisit, da'wah yang diajarkan oleh baginda Rasulullah itu ada tiga hal, pertama da'wah bil qoul, yakni disampaikan dengan ucapan/ lisan walaupun terasa pahit ( qulil hak walau Kana murron ), kedua da'wah bil hal/ bil fi'li, yakni dengan perbuatan, mencontohi perilaku yang baik ( positif ). 

"Kalau da'wah pertama dan kedua itu tidak sanggup untuk melaksanakannya, maka ketiga da'wah bil qolbi, yakni dengan hati, mendo'akan saja, dan inilah yang disebut kelemahan iman, Oleh karena itu, takbir keliling menurut saya masuk pada wilayah da'wah kedua ( bil hal/ fi'li )" Ungkap H. Bahri menjelaskan.

Dalam ulasannya, H.Bahri yang juga selain Tokoh Ulama, Beliau yang juga merupakan sebagai salah satu pengasuh yayasan pendidikan agama Islam di Ciwandan ini, menyampaikan perlunya keterlibatan dan peran pemerintah Kota Cilegon, untuk mengatur tata cara agar tercapai takbir keliling yang damai dan tertib, dan bukannya timbul pelarangan.

"Jadi, kalau kemudian ada larangan tentang takbir keliling, Menurut saya kalau larangan tentang takbir keliling itu benar adanya, maka sungguh sudah berlebihan, kecuali yang diatur itu tata caranya demi tercapainya ketertiban dan kedamaian".

Tokoh Ulama berikutnya Ustad Sunardi mengkritisi terbitnya surat himbauan tersebut, dengan mengatakan, takbir yang mengumandangkan asma Allah dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri itu merupakan perintah Alquran dan sunnah jadi termasuk ajaran agama Islam.
“Itu tersurat di AlQuran surat II ayat 185, jika telah tunai puasa ramadhan agungkanlah nama Allah wujud rasa syukur kalian, Hal itu dijelaskan juga oleh Nabi Muhammad saw dalam beberapa hadits shahih di hadist Abu Daud, Muslim, Ahmad dan lain lain,” mengutip surat Alquran.

Yang kemudian Ustad Sunardi mengutip Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 berbunyi: “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”, Sebuah pernyataan jaminan di dalam pasal tersebut, yang mengindikasikan bahwa negara memiliki kepentingan yang wajib untuk dilakukan dalam rangka memberikan perlindungan, pengawalan agar tujuan penyelenggaraan dapat terwujud secara tertib.

"Saya berharap kepada pemerintah kota cilegon, agar tidak gampang mengeluarkan pernyataan larangan terkait dengan acara keagamaan, apapun itu, karena yang dilarang itu pelanggarannya bukan takbirannya, jika memang kajian pemerintah kota cilegon kegiatan tersebut akan menyebabkan pelanggaran, maka jelas butuh aturan pemerintah yang mengatur tata cara dan peran serta dari semua pihak untuk memberi kawalan kepada masyarakat yang sedang melakukan takbiran, sehingga dapat terselenggara dengan tertib", lanjut ustad lulusan salah satu Pondok pesantren Jawa Timur ini.

Redaksi SBO
 
Share To:

PortalMuslim.com

Media Referensi Muslim - Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Post A Comment: